Kejamnya Ghosting! Bikin Korban Alami Harga Diri Rendah dan Luka Psikologis

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 09:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 612 2374040 kejamnya-ghosting-bikin-korban-alami-harga-diri-rendah-dan-luka-psikologis-HwfSTyMx2b.jpg Korban ghosting (Foto: AZ Big Media)

Fenomena ghosting menyeruak di media sosial. Semua orang membahasnya, beberapa dari mereka ikut mencurahkan kisah senasib untuk mengedukasi orang lain supaya tidak merasakan apa yang dialami.

Ghosting adalah suatu kondisi ketika seseorang dalam suatu hubungan memutuskan untuk berpisah tanpa memberikan penjelasan atau alasan.

 korban ghosting

Pelaku ghosting menghilang begitu saja, tanpa pernah menghubungi korban lagi. Bahkan saat dikirimi pesan pelaku ghosting tidak mau membalas pesan, hal yang lebih menyakitkan, pelaku memblokir nomor korban! Kejam sekali ya?

Pada beberapa kasus, pelaku melakukan hal tersebut dengan alasan tidak siap melanjutkan hubungan yang lebih serius atau sekadar sudah tidak mau lagi bersama.

Lex's Lair, seorang astrology, menerangkan bahwa ada beberapa alasan seseorang melakukan ghosting, misal ketidakmatangan emosional, ketidakamanan dalam suatu hubungan, dan keterampilan komunikasi yang minim.

"Sederhananya, orang-orang ini tidak ingin berbicara dengan Anda lagi tanpa memberikan alasan dan seringkali tidak ada tanda-tanda orang tersebut akan hilang mendadak," terangnya dikutip dari Vocal Media.

Lebih lanjut, Susan McQuillan, MS, RDN, seorang pakar hubungan, menerangkan bahwa ghosting bisa terjadi pada berbagai jenis hubungan, tidak hanya yang serius.

"Jadi, ghosting itu bisa terjadi juga dalam hubungan pertemanan, kencan informal, bahkan hubungan pekerjaan," katanya di laman Psycom.

"Saya menilai, seseorang melakukan ghosting salah satunya dengan harapan menghindari drama. Jadi, tidak ada momen histeris, tidak ada pertanyaan yang diajukan, tidak perlu memberi jawaban, dan tidak perlu berurusan dengan perasaan orang lain," sambungnya.

Di sisi lain, orang yang mendapat ghosting bisanya sangat terluka dengan sikap tersebut. Ketidakjelasan berakhirnya hubungan membuat perasaan menjadi tidak tenang. Ada yang belum tuntas.

Diterangkan Jennuce Vilhauer, PhD, seorang pakar hubungan, ketika seseorang mengalami penolakan sosial, itu mengaktifkan jalur rasa sakit yang sama di otak seperti Anda merasa sakit fisik.

Meski, rasa sakit itu bisa diredam dengan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit seperti Tylenol.

Ketika seseorang di-ghosting, kata Vilhauer, situasi tidak memberi Anda petunjuk bagaimana harus bereaksi.

"Ini menciptakan skenario akhir dari ambiguitas. Anda jadi berasumsi sendiri, apakah saya harus marah? Apakah saya salah? Apakah dia hanya sedang sibuk? Semua pertanyaan itu akan selalu ada," terangnya dikutip dari Psychology Today.

Ya, efek ghosting yang cukup berbahaya secara kesehatan mental adalah membuat si korban bukan hanya mempertanyakan validitas hubungan, tetapi juga menyebabkan seseorang mempertanyakan diri sendiri.

"Mempertanyakan diri sendiri adalah hasil dari sistem psikologis dasar yang ada untuk memantau status sosial seseorang dan menyampaikan informasi itu kembali kepada orang lain melalui perasaan harga diri," kata Vilhauer.

Nah, ketika penolakan terjadi, harga diri Anda bisa runtuh. "Kalau ini sudah terjadi, Anda bisa butuh waktu lama untuk kembali pulih karena orang dengan harga diri rendah memiliki lebih sedikit opiod alami (penghilang rasa sakit) yang dilepaskan ke otak setelah penolakan terjadi," terangnya.

Jadi catatan penting di sini ialah ghosting merupakan bagian dari silent treatment yang sering dipandang olehpara profesional kesehatan mental sebagai bentuk kekejaman emosional.

Ini pada dasarnya membuat Anda tidak berdaya dan membuat Anda tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau diberi informasi yang akan membantu Anda memproses pengalaman secara emosional.

"Ghosting juga membuat Anda terbungkam, Anda tidak bisa mengekspresikan emosi dengan lepas padahal ini penting untuk menjaga harga diri. Intinya, ghosting adalah taktik interpersonal pasif-agresif yang dapat meninggalkan luka fisik dan luka psikologis," papar Vilhauer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini