BKKBN: Bidan-Bidan di Desa Harus Dihidupkan Kembali

Wilda Fajriah, Jurnalis · Selasa 09 Maret 2021 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 09 481 2374848 bkkbn-bidan-bidan-di-desa-harus-dihidupkan-kembali-85AVJxojGL.jpg Ibu hamil (Foto: Healthline)

Ibu dengan usia kehamilan dini perlu mendapatkan banyak perhatian. Termasuk mendapatkan perhatian dari bidan setempat di mana dia berada, salah satunya di desa.

Apalagi saat hamil, tubuh wanita berubah karena adanya plasenta. Plasenta tersebut dapat menghasilkan hormon estrogen dan progesteron dalam jumlah banyak.

Progesteron bersama dengan estrogen dihasilkan oleh kurpus luteum, yaitu sebuah kelenjar endokrin yang merupakan sisa dari folikel setelah terjadinya peristiwa ovulasi.

Akibatnya, ibu hamil pun mengalami beberapa perubahan emosi secara drastis. Seperti menjadi lebih sensitif, mual, emosional, serta menginginkan suatu hal tertentu secara mendesak atau yang biasa disebut dengan ngidam.

 bidan

Karenanya, ibu dengan usia kehamilan dini atau hamil muda ini perlu mendapatkan perhatian serius. Sehingga BKKBN meminta untuk menghidupkan kembali bidan-bidan di pedesaan.

"Hamil muda penting untuk mendapatkan perhatian. Ibu hamil itu perlu didampingi. Karenanya, bidan-bidan di desa harus dihidupkan kembali," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Sp.OG (K) melalui temu virtual dengan jurnalis pada Selasa (9/3/2021).

Hasto mengatakan, setidaknya ada satu bidan di setiap desa. Dengan pemerataan, maka data bidan yang jumlahnya sudah mencukupi ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan seimbang.

"Kalau pemerataannya baik, sebenarnya 1 bidan hanya menangani 20 persalinan saja," sambungnya.

Sementara itu, BKKBN juga menyediakan alat kontrasepsi secara gratis. Ini dilakukan dalam rangka terciptanya jarak anak yang aman dan ideal, sehingga anak dengan kondisi stunting pun dapat dicegah.

"Jarak melahirkan itu idealnya lebih dari 3 tahun. Karena salah satu faktor yang menyebabkan anak stunting adalah kehamilan dan kelahiran yang terjadi dalam jarak dekat. Selain itu, jarak antar anak yang dekat juga berpotensi terjadinya autisme," tukasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini