Budaya Patriarki Jadi Alasan Tingginya Angka Kekerasan terhadap Perempuan

Siska Permata Sari, Jurnalis · Selasa 09 Maret 2021 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 09 612 2375041 budaya-patriarki-jadi-alasan-tingginya-angka-kekerasan-terhadap-perempuan-cB5njaEoTW.jpg KDRT (Foto: The local france)

Masih dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) kembali mengingatkan lagi tentang problematika yang dihadapi kaum perempuan. Salah satunya adalah masalah kekerasan terhadap perempuan yang masih marak terjadi.

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Dalam Rumah Tangga dan Rentan, Valentina Gintings mengungkapkan, angka kekerasan terhadap perempuan masih terbilang tinggi.

 kekerasan terhadap perempuan

Mengutip data dari Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016, 1 dari 3 perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual.

“Ini angka yang cukup tinggi. Kalau tadi disebutkan bahwa 49,42 persen penduduk Indonesia adalah perempuan, maka sepertiga dari 49 persen ini sudah pernah mengalami bentuk kekerasan,” kata Valentina Gintings dalam acara Media Talk ‘Perempuan Berani Bicara’, Selasa (9/3/2021).

Tak hanya itu, masih mengutip dari data yang sama, 1 dari 5 perempuan yang sedang dan pernah menikah, mengalami kekerasan psikis. “Kemudian 1 dari 4 yang pernah dan sedang menikah, juga mengalami kekerasan berbasis ekonomi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Valentina menambahkan, bahwa kekerasan terhadap perempuan justru banyak terjadi di perkotaan.

“Banyak yang bilang kekerasan terjadi karena faktor kemiskinan, tetapi ternyata yang paling tinggi itu justru di perkotaan, dengan data 33,4 persen perempuan pernah mengalami kekerasan sepanjang hidup mereka, baik fisik, seksual, serta fisik dan seksual atau keduanya,” katanya.

Dia mengungkapkan alasan yang membuat angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Mulai dari stigma, hingga budaya patriarki.

“Mengapa sih kekerasan masih terjadi atau masih adanya diskriminasi Karena masih ada stigma yang dihadapi perempuan, mereka masih malu untuk menyatakan mereka mengalami kekerasan, terutama jika pelakunya kerabat atau keluarga,” ujarnya.

“Kemudian, banyak juga yang kurang informasi bahwa apa yang dialaminya itu merupakan bentuk kekerasan. Kemudian, kurang informasi tentang mekanisme pelaporan dan terkait layanan perempuan dan korban yang belum merata seluruh daerah,” jelasnya.

Kendala proses hukum pun juga menjadi tantangan tersendiri dalam menuntaskan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Budaya patriarki yang salah memposisikan perempuan, membuat perempuan tetap berada di posisi domestik, artinya kembali ke dapur lagi, ke dapur lagi. Ini hambatan-hambatan yang membuat kita tidak bisa mengeluarkan perempuan itu untuk berani mengatakan bahwa mereka punya posisi yang sama untuk proses pembangunan ini,” kata Valentina.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini