Hari Ginjal Sedunia, Mengenal Lebih Dalam Gangguan Fungsi Ginjal

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 10 Maret 2021 16:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 481 2375679 hari-ginjal-sedunia-mengenal-lebih-dalam-gangguan-fungsi-ginjal-SCoXbe46zg.jpg Gangguan ginjal (Foto: Sonas home healthcare)

Besok diperingati sebagai Hari Ginjal Sedunia. Sudah saatnya kita lebih memperhatikan kesehatan ginjal.

Penyakit gangguan fungsi ginjal, khususnya di Indonesia tidak boleh dianggap remeh. Tahukah Anda, bahwa angka kematian di dunia akibat penyakit gangguan fungsi ginjal semakin naik setiap tahunnya?

 sakit ginjal

Dari data angka kematian GBD 2015 Mortality and Causes of Death Collaborators, tercatat gangguan fungsi ginjal yakni penyakit ginjal kronik pada 2015 ada di peringkat ke-17 sebagai penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia.

Sebagaimana dijelaskan dalam persentasi dr. Aida Lydia, Ph.D., Sp.PD-KGH, spesialis penyakit dalam sekaligus Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Rabu (10/3/2021), dalam dunia medis gangguan fungsi ginjal dibagi dalam dua kategori, akut dan kronik.

Gangguan fungsi ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang mendadak (baru terjadi). Sementara yang kronik, penurunan fungsi ginjal yang sudah lama terjadi, indikatornya terjadi lebih dari tiga bulan.

Inilah yang disebut dengan penyakit ginjal kronik (PGK), penurunan fungsi ginjal atau adanya kerusakan struktur ginjal yang progresif dan berlangsung lebih dari tiga bulan lamanya.

Banyak hal yang menjadi kriteria dari PGK, sebagai penanda telah terjadinya kerusakan pada ginjal. Bisa terjadi hanya satu pertanda, atau bahkan bisa lebih. Pertama, adanya albumin atau protein di urin, sel darah merah di urin, terjadinya peningkatan kreatinin darah, ada kelainan pemeriksaan biopsi ginjal, ada kelainan pada pencitraan, dan ada riwayat transplan ginjal.

Untuk penyebab penyakit ginjal kronik, ada tiga faktor terbesar. Dari data Indonesian Renal Registery, tercatat penyakit hipertensi atau darah tinggi dengan persentase 40 persen jadi penyebab nomor satu terjadinya gagal ginjal.

Di peringkat kedua disusul oleh diabetes dengan persentasi 26 persen, lalu glomerulonefritis yang seperti dikutip dari laman situs resmi Gleneagles Hospital adalah peradangan saringan kecil dalam ginjal (glomeruli) di posisi ketiga dengan persentase 11persen.

Dari data Kidney Int Rep tahun 2020 disebutkan bahwa 1 dari setiap 10 orang di dunia mengalami penyakit ginjal kronik. Seperti penuturan dr. Aida, parahnya, 9 dari 10 orang dengan penyakit ini tidak menyadari kalau dirinya sudah jatuh sakit.

“Sekitar sepertiga pasien dengan PGK belum mengetahui benar mengenai penyakitnya dan perjalanan penyakitnya serta modalitas terapi yang ada setelah mengalami penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) atau gagal ginjal terminal,” ujar dr. Aida

Akhirnya karena tidak tahu kalau sudah sakit tahap kronis, perawatan dan pengobatan yang bisa dijalani pun menjadi semakin terbatas.

“Biasanya pasien datang dalam kondisi yang sudah lanjut, di mana fungsi ginjal sudah sangat rendah dan telah terjadi komplikasi akut dari PGK itu sendiri, sehingga pilihan pengobatan yang ditawarkan saat itu juga terbatas,” pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini