Share

Belajar dari Awal Penemuan Covid-19, Indonesia Tak Boleh Remehkan B117

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Okezone · Rabu 10 Maret 2021 19:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 612 2375801 belajar-dari-awal-penemuan-covid-19-indonesia-tak-boleh-remehkan-b117-HZshUDVAbD.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENEMUAN empat kasus tambahan Covid-19 akibat varian baru corona B117 asal Inggris membuat masyarakat menjadi khawatir. Sebab varian baru ini memiliki kemampuan untuk menular lebih cepat hingga 50-70 persen dibandingkan dengan virus sebelumnya.

Varian yang pertama kali ditemukan di Inggris ini sempat membuat banyak negara di Eropa melakukan lockdown akibat penularannya yang sangat besar-besaran. Meski demikian, pemerintah pun meminta tidak panik dengan adanya varian baru ini.

Meski demikian, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, dr. Dicky Budiman, menjelaskan seharusnya Indonesia bisa belajar dari pengalaman awal masuk virus corona. Dengan demikian, maka kita bisa merespons jauh lebih sigap.

"Respon yang biasa saja akan membawa kita menjadi lebih buruk. Hal yang paling akan terlihat yakni pada angka kematian,” jelas dr. Dicky, kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (10/3/2021).

Menurutnya, ketika virus ini sudah terdeteksi dalam sebuah komunitas, maka besar kemungkinan virus tersebut sudah menyebar. Apalagi, dengan kecepatan virus ini yang lebih mudah menyebar. "Jangankan 75 persen atau lebih, 50 persen saja akan sangat berdampak,” katanya.

Menurut dr. Dicky, akan sangat jauh berbeda apabila kasus B117 ini ditemukan di halaman rumah negara seperti di perbatasan, hotel karantina bandara.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Meski demikian, dia menjelaskan ditemukannya varian baru Covid-19 bukan menjadi suatu hal yang aneh. Sebab kondisi pandemi yang belum terkendali dengan baik di seluruh dunia, akan sangat wajar melahirkan strain baru.

β€œStrain baru ini memiliki dampak merugikan dan memperburuk situasi pandemi. Ini adalah hal yang sudah sangat bisa kita prediksi, termasuk di Indonesia. Di tengah mutasi yang demikian banyak, tentu akan lahir yang sifatnya merugikan,” jelas dia.

Sebelumnya, Menkes Budi mengatakan Kemenkes akan melakukan testing secara agresif dengan tujuan agar bisa mengidentifikasi kasus secepat mungkin dan mengisolasi yang sakit secepat mungkin. Menggelar testing secara agresif, metode swab antigen yang bisa mengeluarkan hasil tes dalam waktu cepat akan dipilih dalam strategi ini.

Menkes Budi memperingatkan, semakin banyak tes yang digelar, maka akan semakin banyak orang positif yang terlihat dan membuat catatan angka kasus positif di Indonesia naik. Menurutnya, tracing dan testing secara agresif ini jadi strategi yang lebih baik karena bisa melihat kenyataan yang ada di lapangan.

"Lebih baik kita lihat real nya seperti apa, sehingga strategi kita benar. Daripada lihat sedikit, sudah senang padahal kenyataan jauh lebih banyak, sehingga langkah-langkah kita salah," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini