Simak, Ini Cara Menekan Risiko Stunting pada Anak

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 14 Maret 2021 03:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 13 481 2377324 simak-ini-cara-menekan-risiko-stunting-pada-anak-sQ5STSV3pg.jpg Ilustrasi anak bayi. (Foto: Unsplash)

STUNTING merupakan kondisi balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan standar di usianya. Menurut Kementerian Kesehatan, seseorang dinyatakan stunting apabila diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih rendah dari minus 2 standar deviasi median standar pertumbuhan WHO.

Selain itu, stunting adalah penanda adanya risiko perkembangan anak yang tidak baik. Stunting di usia kurang dari 2 tahun memprediksi tingkat kognitif dan pendidikan yang buruk di masa anak-anak dan remaja.

Baca juga: Cegah Stunting, Berapa Panjang Bayi Ideal saat Lahir? 

Ahli Gizi dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Profesor Dr drg Sandra Fikawati MPH mengatakan penyebab utama stunting adalah kurangnya nutrisi pada anak sejak masih dalam kandungan maupun setelah lahir. Demikian diungkapkan dalam diskusi virtual beberapa waktu lalu.

Ia pun membagikan rekomendasi pemberian makanan yang benar pada bayi untuk mengurangi risiko stunting di 1.000 hari pertama, yaitu:

1. Inisiasi menyusui dini (IMD)

Mulai menyusui dalam waktu satu jam setelah melahirkan. Ibu yang IMD akan lebih berhasil dalam memberikan ASI eksklusif 4 sampai 6 bulan. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, proporsi IMD pada anak umur 0 hingga 23 bulan adalah 58,2 persen. Dari proporsi ini, ibu yang melakukan IMD di atas 1 jam hanya 15,9 persen.

Ilustrasi tinggi anak. (Foto: Freepik)

2. ASI eksklusif

Berikan hanya ASI saja (eksklusif) selama 6 bulan pertama. Angka ASI eksklusif 6 bulan di Indonesia relatif rendah. Perhatian jangan diberikan hanya kepada durasi menyusui, tetapi juga dampaknya pada ibu dan bayi. Perhatikan status dan asupan gizi ibu menyusui serta produksi ASI ibu.

3. Pengenalan MPASI

Berikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang secara gizi memadai, tepat menurut usia bayi, dan disiapkan dengan aman mulai usia bayi 6 bulan. Lanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih.

Baca juga: Stunting Bisa Dicegah sejak Masa Kehamilan dengan Rutin USG 

4. Frekuensi makan minimal

Hidangan utama atau selingan per hari yaitu (1) Dua kali untuk bayi 6–8 bulan yang masih disusui; (2) Tiga kali untuk anak usia 9–23 bulan; (3) Empat kali untuk anak usia 6–23 bulan yang tidak mendapatkan ASI (dan dapat termasuk susu/makanan formula bagi anak yang tidak disusui).

5. Minimun acceptable diet (MAD)

MAD indikator komposit MMF dan MDD. Dalam hal frekuensi minimal, bagi anak yang tidak disusui harus mendapatkan susu setidaknya 2 kali per hari. Dalam hal keragaman pangan, bagi anak yang tidak disusui didasarkan atas 6 dan bukan 7 kelompok pangan. Sebab, susu sudah harus wajib ada dalam menu.

Baca juga: PR Indonesia Perangi Stunting hingga 2024 

6. Keragaman pangan minimal

Konsumsi makanan yang beragam yaitu setidaknya mengonsumsi 4 dari 7 kelompok pangan. Adapun 7 kelompok pangan tersebut yakni: (1) Padi-padian, akar, umbi; (2) Buah dan sayur kaya vitamin A; (3) Daging seperti daging merah, ikan, dan ungags; (4) Legum, kacang-kacangan dan biji-bijian; (5) Telur; (6) Buah dan sayur lainnya; (7) Susu dan olahannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini