Dokter: Sulit Mendeteksi Tuberkulosis pada Anak, tapi Bisa Diobati

Antara, Jurnalis · Minggu 14 Maret 2021 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 14 481 2377457 dokter-sulit-mendeteksi-tuberkulosisi-pada-anak-tapi-bisa-diobati-oPOvO9diwM.jpg Ilustrasi mendeteksi tuberkulosis pada anak. (Foto: Prostooleh/Freepik)

TUBERKULOSIS atau TB merupakan salah satu penyakit yang banyak penderitanya di Indonesia. Penyakit ini ternyata juga bisa dideritanya anak. Bahkan, anak yang menderita tuberkulosis lebih sulit dideteksi. Hal ini sebagaimana disampaikan dokter spesialis anak Cynthia Centauri.

Ia mengatakan bahwa mendeteksi tuberkulosis pada anak lebih sulit dari orang dewasa. Pasalnya, anak-anak jarang menunjukkan gejala TB, misalnya batuk atau masalah lain pada saluran pernapasan.

Baca juga: Mengenal TB Usus, Sakit yang Diderita Ustadz Maaher Sebelum Meninggal 

"Pada anak yang menderita TB jarang sekali yang mengalami batuk. Gejala yang sering terjadi yaitu pada berat badan anak yang tak kunjung naik-naik dan demam terus-menerus," jelas dr Cynthia dalam keterangannya, seperti dikutip dari Antara, Minggu (14/3/2021).

Lebih lanjut saat dokter sudah mendiagnosis anak terkena TB, maka pengobatan yang akan diberikan setidaknya berpegang pada empat prinsip yakni minum obat TB (OAT) secara teratur sampai tuntas atau sembuh serta rutin untuk berobat dan kontrol ke dokter.

Ilustrasi anak-anak. (Foto: Jcomp/Freepik)

Menurut dr Cynthia, penetapan penghentian pengobatan ini harus diputuskan oleh dokter, bukannya perkiraan keluarga pasien.

Selanjutnya, mencegah penularan lebih lanjut, memenuhi gizi yang adekuat sesuai kebutuhan pasien dan menjalani pola hidup bersih dan sehat; serta mencari dan tatalaksana penyakit penyerta.

Baca juga: Pasien TBC Jangan Buang Dahak Sembarangan, Ini Akibatnya! 

Sementara dokter spesialis paru RR Diah Handayani menyoroti kenyataan pandemi covid-19 yang sedikit menggeser program TB, karena fokus dari tenaga kesehatan dan masyarakat saat ini lebih kepada covid-19.

"Upaya pencegahan TB seharusnya bisa lebih digalakan seperti pada kasus covid-19. Upaya ini memerlukan kerja sama dan kolaborasi dari banyak pihak seperti kader, fasilitas layanan kesehatan, praktik sejawat, pemerintah, serta masyarakat," jelasnya.

Ia mengingatkan, beberapa terapi pencegahan TB yang perlu kembali digalakkan meliputi pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), skrining, active case finding, TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis), pencegahan serta terapi HIV dan komorbid lain, akses ke layanan kesehatan dan dukungan sosial serta pengentasan kemiskinan. Upaya eliminasi TB ini dilakukan mulai dari pencegahan TB laten dan infeksi TB sebelum sakit.

Menurut dr Diah, upaya penanganan TB bisa dipelajari dari upaya penanganan COVID-19 seperti pelacakan kontak, identifikasi terapi, serta pencegahan dilakukan dengan agresif oleh banyak pihak. "Sehingga, upaya pencegahan TB juga harus radikal," terangnya.

Ketua Perhimpunan Perkumpulan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Kota Depok dr Rulliana Agustin mengingatkan para kader TB berperan memberikan pendampingan dan edukasi terbaik kepada masyarakat terhadap kewaspadaan TB dan pengobatannya. Dia tak menampik, beberapa tantangan yang dihadapi para kader, seperti risiko tertular, cara memotivasi pasien, dan sebagainya.

Baca juga: Hari TBC Sedunia, Kenali Gejala dan Obati Sampai Sembuh 

"Tentunya kerja sama dengan berbagai pihak perlu terus dijalin karena TB adalah masalah kita bersama yang cukup besar; salah satu yang diharapkan misalnya penyediaan APD yang terjamin (minimal masker) bagi para kader," ungkapnya.

Dirinya berharap semua pihak dapat bersemangat dan berkolaborasi menemukan dan mengatasi secara tuntas penyakit tuberkulosis sesuai dengan protokol kesehatan di era pandemi covid-19. Selain itu, diharapkan pula layanan pengobatan dan laboratorium TB dapat dipertahankan berdampingan dengan layanan covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini