Studi: Wanita Miliki Respons Lebih Kuat Terhadap Efek Vaksin Covid-19

Antara, Jurnalis · Minggu 14 Maret 2021 16:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 14 481 2377543 studi-wanita-miliki-respons-lebih-kuat-terhadap-efek-vaksin-covid-19-k29ur7ws2Q.jpg Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Freepik)

HASIL studi terbaru mengungkapkan bahwa respons wanita terhadap efek samping vaksin covid-19 lebih kuat dibandingkan pria. Berdasarkan laporan Trusted Source yang dirilis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) ditemukan bahwa dari 13,8 juta dosis vaksin covid-19 pertama yang diberikan kepada orang Amerika, efek sampingnya lebih tinggi dirasakan wanita.

Sebesar 79 persen efek samping covid-19 dilaporkan berasal dari wanita, meskipun hanya 61 persen dari vaksin yang diberikan kepada wanita. Wanita menunjukkan respons yang lebih kuat terhadap vaksinasi lain telah terlihat selama bertahun-tahun.

Baca juga: Indonesia Dapat Prioritas Pertama Sebagai Penerima Vaksin AstraZeneca di Asia Tenggara 

Para ahli menduga bahwa pada wanita, terutama wanita pramenopause, kadar estrogen membantu mengaktifkan respons kekebalan terhadap penyakit dan vaksin. Sebaliknya, pria memiliki lebih banyak testosteron, hormon yang agak meredam atau memperlambat respons yang sama.

Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Freepik)

Sederhananya, wanita pada umumnya memiliki respons yang lebih kuat terhadap vaksin karena tubuh mereka lebih cepat dan lebih kuat dalam hal mengaktifkan apa yang diperkenalkan oleh vaksin ke dalam tubuh.

"Penyakit menular pada umumnya selalu tentang respons kekebalan dan bukan bug-nya," ungkap dr Larry Schlesinger, presiden dan kepala eksekutif Texas Biomedical Research Institute di San Antonio, Amerika Serikat, seperti dikutip dari laman Healthline, Minggu (14/3/2021).

"Pada wanita, ada respons yang bersemangat dan lebih kuat (terhadap banyak vaksin)," lanjutnya.

Baca juga: Menkes Targetkan 1,5 Juta Suntikan Vaksin Covid-19 per Hari pada Semester II 2021 

Dokter Schlesinger mengatakan di masa lalu respons yang lebih kuat pada wanita telah terlihat dan dipelajari dalam vaksin untuk demam kuning, DPT, influenza, serta penyakit lainnya.

Ia mengungkapkan bahwa estrogen mendorong tubuh memproduksi lebih banyak sel T, sel reaktor yang melindungi tubuh saat vaksin diperkenalkan.

"Kami melihat respons yang lebih cepat dan lebih kuat yang dialami banyak wanita," jelasnya.

Para ahli mengatakan tantangan saat ini adalah untuk membagikan informasi tersebut tanpa menimbulkan kekhawatiran atau alasan untuk menghindari vaksin covid-19.

Dokter William Schaffner, pakar penyakit menular dan profesor di Divisi Penyakit Menular Vanderbilt University School of Medicine di Tennessee, mengatakan fenomena ini telah dipelajari selama bertahun-tahun dan mendesak para wanita untuk memahami bahwa respons yang lebih kuat dan gejala sementara bukanlah alasan untuk menolak vaksin.

Baca juga: Memilih Klinik Kecantikan di Masa Pandemi Covid-19, Seperti Apa? 

"Covid-19 buruk dan akan menempatkan wanita di ICU seperti halnya pria. Efek samping vaksin bersifat sementara dan sebagian besar hilang dalam 24 jam," kata Schaffner.

Schlesinger mengatakan bahwa bagi banyak wanita vaksin adalah pedang bermata dua. Di satu sisi memiliki bukti bahwa wanita mendapatkan respons antibodi yang kuat terhadapnya dan sisi lain berpotensi mengalami efek samping sehari atau lebih.

Baca juga: Rindu Masuk Sekolah, Anak-Anak Berharap Semua Orang Dewasa Mau Divaksin 

Julianne Gee MPH, penulis utama studi terbaru ini dan petugas medis di Kantor Keamanan Imunisasi CDC, mengatakan bahwa studi tersebut merupakan bagian dari pelacakan berkelanjutan CDC terhadap vaksin dan dampaknya, tidak boleh memengaruhi siapa pun untuk tidak melakukan suntikan.

"Covid-19 dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian, dan vaksinasi merupakan alat pencegahan yang penting untuk mencegah penyakit dan komplikasi. Vaksin covid-19 akan membantu masyarakat kembali normal," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini