Kemenkes: Ada Kemungkinan Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Haji dan Umrah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 17 Maret 2021 09:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 17 481 2379086 kemenkes-ada-kemungkinan-vaksin-covid-19-jadi-syarat-haji-dan-umrah-BuQ8uyWAl7.jpg Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Freepik)

SAMPAI saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum menggunakan sertifikat vaksin covid-19 sebagai syarat perjalanan. Maka itu, hasil pemeriksaan covid-19 masih jadi syarat utama.

"Satu-satunya syarat perjalanan adalah pemeriksaan covid-19," jelas Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dalam konfrensi pers virtual, Selasa 16 Maret 2021.

Baca juga: Kontroversi Vaksin AstraZeneca, Manfaatnya Dinilai Lebih Besar Dibanding Efek Sampingnya 

Jadi, meski Anda sudah divaksin dua dosis sekalipun, itu tidak menjadi alasan bisa melakukan perjalanan tanpa harus tes covid-19.

Ia melanjutkan, ada kemungkinan sertifikat vaksinasi covid-19 akan diwajibkan bagi jamaah calon haji dan umrah.

Baca juga: Ini Penjelasan Kemenkes soal Kabar Vaksin Sinovac Akan Kedaluwarsa 

"Ada kemungkinan Arab Saudi memasukkan atau menambahkan vaksin covid-19 sebagai syarat dalam melakukan perjalanan haji dan umrah, selain vaksin meningitis dan vaksin influenza," kata Siti Nadia.

Artinya, sangat mungkin bagi negara-negara untuk mewajibkan jamaah calon haji dan umrah mengantongi sertifikat vaksinasi covid-19 sebagai syarat sebelum ke Tanah Suci.

Dia menambahkan, dalam situasi pandemi seperti saat ini, tes covid-19 menjadi standar utama dalam syarat perjalanan. Sebab, walaupun sudah divaksin, seseorang masih mungkin tertular virus corona.

"Karena itu, fungsi vaksin adalah mencegah kita jatuh sakit. Tapi, vaksin tidak serta-merta membuat kita jadi tidak tertular. Namun pada saat kita tertular, vaksin akan memberikan dukungan dengan membentuk kekebalan tubuh sehingga virus yang sudah masuk akan dilawan," papar Siti Nadia.

Baca juga: Menkes Budi Baru Tahu Vaksin AstraZeneca Kedaluwarsa Mei 2021 

Di masa pandemi covid-19 yang belum terkendali dengan baik, laju penularan masih banyak terjadi. Oleh karena itu, sangat disarankan mengurangi mobilitas jika tidak terlalu penting.

"Lagipula, jumlah orang yang divaksin relatif belum banyak, sehingga tidak akan menimbulkan kekebalan kelompok yang kita harapkan," tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini