Sosiolog: Masyarakat Baru Patuh Lagi kalau Sekitarnya Ada yang Kena Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 22 Maret 2021 20:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 22 612 2382226 sosiolog-masyarakat-baru-patuh-lagi-kalau-sekitarnya-ada-yang-kena-covid-19-cb4QjIoWMu.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

PANDEMI Covid-19 yang sudah lebih dari satu tahun melanda Indonesia, masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Banyak masyarakat yang hidupnya terkena dampak selama masa pandemi, meski berbagai upaya telah dilakukan agar dapat beradaptasi dengan situasi yang baru.

Lantas berapa lama lagi masyarakat dapat bertahan dengan situasi pandemi seperti ini? Sosiolog, Daisy Indira Yasmine mengatakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bisa bertahan di masa pandemi seperti saat ini beragam.

Menurutnya, semuanya tergantung pada pengalaman-pengalaman yang mereka rasakan terkait pandemi. Ada yang mampu bertahan sebentar, tapi ada pula yang lama, meskipun pasti ada batas kemampuan bertahannya.

“Ada satu titik kita merasa jenuh terhadap perubahan-perubahan yang ditawarkan atau diminta dilakukan. Itu disebut pandemi fatique. Kejenuhan sosial, akan pengaruhi angka kepatuhan,” ujar Daisy, dalam sesi Ngobrol Asik (Ngobras) dengan awak media, Senin (22/3/2021).

Seperti diketahui, pandemic fatique menurut World Health Organization (WHO) adalah demotivasi atau kejenuhan untuk mengikuti prokes yang dianjurkan. Gejala ini muncul secara bertahap dari waktu ke waktu, dan gejalanya bisa datang dan pergi.

“Bisa sebulan mulai jenuh, lalai, lalu kalau dengar informasi baru, patuh lagi. Kejenuhan ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang dia rasakan selama pandemi. Kalau di anggota keluarga atau lingkungan banyak yang terkena, tentu akan beradaptasi lebih lancar," kata dia.

"Kalau di sekitar enggak ada yang kena, lebih abai,” lanjutnya.

Selain itu ada pula yang mengalami pandemic fatigue dan akhirnya pasrah, karena tidak bisa melakukan yang diinginkan. Ada juga yang justru stres karena tekanan terlalu kuat, tidak jelas kapan berakhir, itu mengganggu kesehatan mentalnya. Tak hanya karena pandemi, seseorang yang terkena penyakit kronis pun bisa mengalami hal tersebut.

“Selain itu karena perubahan yang dipaksakan harus dilakukan, oleh institusi, negara, komunitas global, kepada orang yang terkena atau tidak. Orang yang hidupnya biasa-biasa saja diminta melakukan perubahan, sehingga kejenuhan itu bisa muncul,” tuntasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini