Terungkap, Pandemic Fatigue Bikin Masyarakat Sulit Pertahankan Protokol Kesehatan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 23 Maret 2021 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 23 481 2382534 terungkap-pandemic-fatique-bikin-masyarakat-sulit-pertahankan-protokol-kesehatan-dL34XhpcNr.jpg Ilustrasi mengalami pandemic fatigue. (Foto: Prostooleh/Freepik)

PANDEMI covid-19 yang melanda lebih dari satu tahun ini membuat masyarakat menjadi lelah dan jenuh terhadap situasi yang terjadi. Terlebih lagi grafik penularan fluktuatif yang membuat masyarakat berisiko mengalami pandemic fatique.

Sosiolog Daisy Indira Yasmine S.Sos M.Soc.Sci menjelaskan pandemic fatique adalah demotivasi atau kejenuhan untuk mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan, muncul secara bertahap dari waktu ke waktu. Pandemic fatique ini terlihat jelas pada masa liburan atau hari raya.

Baca juga: Mengenal Pandemic Fatigue, Penyebab Lelah dan Hilangnya Motivasi 

"Pada momen seperti itu, masyarakat paling sulit mempertahankan protokol kesehatan. Mereka lebih mengutamakan relasi keluarga, kegembiraan, kesenangan yang dirasakan, sehingga protokol kesehatan terabaikan," terang Daisy dalam acara virtual Ngobrol Asik (Ngobras) beberapa waktu lalu.

Ilustrasi pandemi covid-19. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Tentunya hal ini harus segera dipecahkan. Sebab jika dibiarkan, maka pandemic fatique akan membuat kondisi makin parah. Oleh karena itu, harus ada regulasi yang berfokus pada manusia atau masyarakat.

Meski demikian, tidak semua kebijakan berbasis data dan riset harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya untuk lansia dan kaum muda harus dilakukan dengan cara berbeda. Hal terpenting adalah media komunikasinya harus tepat.

Baca juga: Waspada, Asal-asalan Pakai Masker Sebabkan Nyeri Leher 

"Community-based solution, artinya melibatkan anggota masyarakat sebagai bagian dari solusi, bukan objek kebijakan yang harus patuh. Anggota masyarakat terlibat dalam merancang kebijakan. Harus ada perubahan gaya hidup, perilaku, sistem nilai, kita harus open untuk berubah, untuk nilai baru yang disesuaikan dengan pandemi," lanjutnya.

Selain itu, kata dia, penting juga mencari bagaimana caranya manusia tetap bisa menjalankan kehidupan sehari-hari tapi mengurangi risiko tertular. Kebijakan yang dibuat pemerintah tidak bisa ekstrem, tapi harus memahami kesulitan hidup yang dihadapi anggota masyarakat.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini