Penelitian: 3 Juta Masker Terbuang Tiap Menitnya, Timbulkan Masalah Lingkungan

Diana Rafikasari, Jurnalis · Selasa 23 Maret 2021 09:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 23 612 2382422 penelitian-3-juta-masker-terbuang-tiap-menitnya-timbulkan-masalah-lingkungan-i87eCD0Uwn.jpg Ilustrasi penggunaan masker untuk mencegah persebaran covid-19. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

SEBUAH penelitian mengungkap sebanyak 3 juta masker terbuang tiap menitnya. Masker yang terbuat dari plastik mikrofiber ini pun bisa menimbulkan masalah lingkungan yang sedang berusaha datasi di seluruh negara.

Setiap bulannya hampir 130 miliar masker digunakan secara global, artinya sekira 3 juta masker terbuang tiap menit.

Baca juga: Tips agar Pulasan Makeup Tak Menempel di Masker 

Para peneliti dari Universitas Denmark Selatan dan Universitas Princeton menyatakan sangat penting mengenali potensi ancaman lingkungan ini dan mencegahnya agar tidak menjadi masalah plastik berikutnya.

Dalam sebuah penelitian yang baru saja diterbitkan dalam jurnal Frontiers of Environmental Science and Engineering, para peneliti memperingatkan bahwa masker sekali pakai yang dibuat dengan plastik mikrofiber tidak dapat langsung terurai secara hayati, tetapi dapat terfragmentasi menjadi partikel plastik yang lebih kecil, yaitu plastik mikro dan nano yang tersebar luas di ekosistem.

Ilustrasi masker. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Pandemi covid-19 telah meningkatkan produksi masker sekali pakai. Ini menurut para peneliti sekarang dalam skala yang sama dengan botol plastik, penyumbang utama masalah plastik dunia dengan sekira 43 miliar botol diproduksi di seluruh dunia setiap bulan.

Sebagaimana dilaporkan laman Fox News, Selasa (23/3/2021), masker tidak seperti botol plastik yang sekira 25 persen di antaranya didaur ulang. Tidak ada panduan resmi tentang daur ulang masker, membuatnya lebih mungkin dibuang sebagai limbah padat.

Baca juga: Cegah Daur Ulang, Ini 4 Cara Buang Masker Bekas Pakai yang Benar 

"Jika tidak dikumpulkan dan dikelola dengan benar, masker dapat diangkut dari darat ke air tawar dan lingkungan laut melalui aliran permukaan, aliran sungai, arus laut, angin, dan hewan (melalui belitan atau tertelan)," jelas para peneliti.

"Adanya limbah masker makin meningkat. Dilaporkan di lingkungan yang berbeda dan media sosial telah berbagi tentang satwa liar yang terjerat tali elastis dari masker," lanjutnya.

Seperti sampah plastik lainnya, masker sekali pakai dapat menumpuk dan melepaskan zat kimia dan biologis berbahaya, seperti bisphenol A, logam berat, serta mikro-organisme patogen.

Selain itu, penyerapan partikel plastik kecil diketahui menyebabkan efek kesehatan yang merugikan dengan tiga cara utama yaitu toksisitas partikel, toksisitas kimiawi, dan vektor mikroorganisme patogen.

Baca juga: Wajib Tahu! Tali Masker Hanya Estetika, Bukan untuk Menggantung Masker 

Para peneliti melanjutkan dengan mengatakan bahwa masker sekali pakai bahkan dapat menimbulkan lebih banyak masalah daripada kantong plastik.

Masalah yang lebih baru dan besar adalah masker dibuat langsung dari serat plastik berukuran mikro. Ketika rusak di lingkungan, masker dapat melepaskan lebih banyak plastik berukuran mikro, lebih mudah dan cepat daripada plastik curah seperti kantong plastik.

Dampak tersebut dapat diperburuk oleh masker generasi baru, nanomasks, yang secara langsung menggunakan serat plastik berukuran nano dan menambahkan sumber polusi nanoplastik baru.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini