Hari Tuberkulosis Sedunia, Kemenkes Temukan 845 Ribu Pasien TBC pada 2020

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 24 Maret 2021 09:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 24 481 2383075 hari-tuberkulosis-sedunia-kemenkes-temukan-845-ribu-pasien-tbc-pada-2020-OPD47k27Qs.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Pada 24 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Menariknya, di 2021 momen ini dirayakan sebagai 100 tahun keberadaan vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG) yang digunakan sebagai pengendali virus TBC.

Di masa pandemi sekarang, perhatian terfokuskan pada penanganan Covid-19, sampai akhirnya sedikit mengabaikan penyakit lain yang mematikan, seperti TBC ini. Menurut data Kementerian Kesehatan, hanya 30 persen capaian mereka dalam menemukan kasus penyakit ini dibandingkan dengan tahun lalu.

TBC

"Data dari Januari hingga Desember 2020 memperlihatkan bahwa ada 845.000 kasus TBC yang kami temukan dengan detail 312 kasus per 100.000 penduduk," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, melalui webinar, Selasa (23/3/2021). Dilaporkan juga bahwa ada 34 kasus kematian dari 100.000 penduduk.

"Jumlah insiden TBC tidak berubah yaitu 845.000 kasus, namun secara rate per 100.000 penduduk mengalami penurunan 1,2%. Sementara itu, angka kematian TBC mengalami penurunan sekitar 1,1% (absolut) dan penurunan rate sekitar 2,9% dikarenakan akses pelayanan TBC sudah mulai rata," tambah Nadia.

Baca Juga : 4 Potret Menggoda Tante Ernie Sapa Ernielicious Usai Sembuh Covid-19

Baca Juga : 5 Foto Seksi Bunga Citra Lestari dalam Balutan Dress Bikin Mata Terpesona

Kemenkes pun mencatat adanya kasus TBC pada anak yang cukup mengkhawatirkan. Dari Januari-Desember 2020, kasus TBC pada anak sebanyak 32.251 kasus. "Pada kasus anak, yang menjadi faktor risiko terbesar masih kasus TBC dewasa yang akhirnya menularkan ke anak. Karena itu, penanganan TBC dewasa harus dioptimalkan agar TBC anak dapat ditekan," ungkap Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes tersebut.

Batuk

Penanganan Tuberkulosis di masa pandemi Covid-19 diutarakan Nadia memiliki beberapa tantangan yang akhirnya menyulitkan penemuan kasus di masyarakat. Ada beberapa poin yang dicatat Nadia:

Penemuan kasus TBC di bawah target akibat terhambatnya kegiatan investigasi kontak.

1. Tingginya kasus 'drop-out' pengobatan akibat tertundanya pengambilan obat.

2. Keterlambatan penegakkan diagnosis TBC akibat tertundanya pengiriman sputum atau penggunaan bersama TCM untuk pemeriksaan Covid-19.

3. Tugas ganda petugas TBC dengan tugas Covid-19. Ini kenapa kader kesehatan di puskesmas kurang begitu gencar melakukan pemeriksaan TBC.

4. Keterbatasan alat pelindung diri (APD) untuk petugas maupun pasien TBC.

5. Beberapa daerah mengalokasikan anggaran TBC untuk penanganan Covid-19.

Mengatasi kendala tersebut, kata Nadia, Kemenkes melakukan beberapa upaya yang tertuang dalam surat edaran PM.01.02/1/966/2020 tanggal 30 Maret 2020 perihal protokol kesehatan pelayanan Tuberkulosis.

"Pertama memastikan layanan TBC tetap berjalan, mengurangi frekuensi pertemuan petugas dengan pasien karena itu pemantauan pengobatan elektronik kami lakukan, dan dilakukan penyesuaian terhadap managemen perencanaan, sumber daya manusia, dan perawatan pengobatan," papar Nadia.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, FISR, menyarankan beberapa upaya yang bisa dilakukan agar kasus TBC rendah, baik untuk Kemenkes maupun masyarakat secara umum.

Saran pertama adalah kebiasaan memakai masker dan menjaga jarak yang sudah dibiasakan di masa pandemi terus berlanjut. Sebab, secara umum penularan TBC tak jauh berbeda dengan Covid-19 karena kedua penyakit ini menyerang sistem pernapasan.

"Jadi, saya menyarankan agar masyarakat terus melanjutkan kebiasaan menggunakan masker dan jaga jaraknya. Virus TBC itu menular lewat udara juga, jadi pakai masker itu penting sekali bukan hanya untuk mencegah Covid-19, tapi banyak penyakit lain yang dapat dihalau," papar Prof Tjandra.

TBC

Selain itu, untuk Kemenkes diharapkan upaya tracing dan testing yang masif pada TBC seperti yang dilakukan untuk Covid-19. Ia yakin, dengan pelayanan kesehatan yang semakin baik sekarang, tindakan ini bisa dilakukan.

"Yang tak kalah penting, komunikasi risiko dari Kemenkes untuk masyarakat pun harus sebesar yang diberikan untuk Covid-19. Saya berharap sekali Kemenkes semakin sering mengampanyekan pencegahan TBC lewat banyak platform dan diskusi untuk masyarakat soal TBC pun harus diperbanyak agar kesadaran masyarakat akan bahaya TBC semakin dikenali dan dapat dicegah," kata Prof Tjandra.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini