Supaya Hamil, Pasangan dengan Infertilitas Idiopatik Disarankan 3 Terapi Ini

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 25 Maret 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 24 481 2383473 supaya-hamil-pasangan-dengan-infertilitas-idiopatik-disarankan-3-terapi-ini-xAZ7QxpHWJ.jpg Pasangan menikah (Foto: Pinterest)

Pasangan dengan infertilitas idiopatik faktanya tetap bisa hamil. Meski, ada catatan penting yang harus diperhatikan, salah satunya soal usia wanita di atas 30 tahun kemungkinan berhasilnya jadi kecil.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi, dan Reproduksi RS Pondok Indah - IVF Centre, dr Gita Pratama, SpOG-KFER, M.RepSc menerangkan, tingkat kehamilan spontan pada pasangan ini bahkan lebih tinggi daripada pasangan dengan infertilitas lainnya.

 program hamil

"Penelitian menunjukkan angka kehamilan secara spontan terjadi sebanyak 13 hingga 15 persen pada percobaan tahun pertama dan meningkat menjadi 35 persen pada percobaan tahun berikutnya," katanya dalam keterangan resmi yang diterima MNC Portal Indonesia, belum lama ini.

Dia melanjutkan, akan tetapi, angka kehamilan secara spontan terus menurun dengan durasi infertilitas lebih dari tiga tahun dan pada pasangan yang perempuannya berusia di atas 30 tahun.

Infertilitas idiopatik sendiri merupakan keadaan ketika pasangan sudah melakukan pemeriksaan lengkap seperti pemeriksaan analisis semen, penilaian fungsi ovulasi, dan uji patensi tuba dinyatakan normal, namun tetap tidak bisa hamil.

Nah, supaya kemungkinan tetap bisa hamil pada pasangan dengan infertilitas idiopatik tetap tinggi, ada 3 upaya yang bisa Anda lakukan. Apa saja?

1. Manajemen ekspektatif

Tingkat kehamilan spontan pada pasangan dengan infertilitas idiopatik cukup tinggi, karenanya melakukan hubungan teratur 1 sampai 2 hari sekali pada masa subur (10-17 hari setelah hari pertama haid terakhir) sangatlah penting untuk mendapatkan kehamilan.

"Manajemen ekspektatif terutama dapat dilakukan pada pasangan dengan usia wanita di bawah 35 tahun dan usia pernikahan di bawah 2 tahun," terang dr Gita.

2. Inseminasi intrauterine

Apabila kehamilan juga tidak didapatkan dengan manajemen ekspektatif saja, maka disarankan untuk melakukan inseminasi intrauterine yang dikombinasikan dengan pemberian obat-obatan penyubur seperti klomifen sitrat, letrozole, atau gonadotropin.

"Inseminasi merupakan metode yang dilakukan dengan cara memasukkan sperma yang sudah ditingkatkan kualitasnya langsung ke dalam rongga rahim. Cara ini akan meningkatkan keberhasilan kehamilan dengan meniadakan faktor serviks dan antibodi antisperma yang sering dikaitkan sebagai penyebab infertilitas idiopatik," papar dr Gita.

3. Program bayi tabung

Program bayi tabung (in vitro fertilization) dapat menjadi salah satu solusi, apabila kehamilan tidak juga didapatkan setelah kegagalan dengan inseminasi intrauterine. Program bayi tabung merupakan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) di mana pembuahan sel telur oleh sel sperma terjadi di luar tubuh wanita (in vitro), kemudian embrio hasil pembuahan ditempatkan kembali ke dalam rahim.

Keberhasilan program bayi tabung pada pasangan yang mengalami infertilitas idiopatik mempunyai angka keberhasilan yang cukup tinggi yakni 30 sampai 40 persen.

"Seiring dengan teknologi yang semakin berkembang, selalu ada harapan untuk memiliki keturunan. Cek kondisi organ reproduksi Anda dan pasangan secara berkala, tetap berpikir positif, dan jalani program kehamilan dengan penuh kesabaran. Be patience, and sure you’ll be pregnant," kata dr Gita.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini