Share

Bom di Gereja Katedral Makassar Bisa Timbulkan Trauma PTSD, Kenali Gejalanya

Hantoro, Jurnalis · Minggu 28 Maret 2021 16:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 28 481 2385455 bom-di-gereja-katedral-makassar-bisa-timbulkan-trauma-ptsd-kenali-gejalanya-nYNi4IHhSW.jpg Lokasi ledakan bom di Gereja Katedral Makassar. (Foto: Sindonews/MNC Portal)

PUBLIK Tanah Air dikagetkan peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Makassar di Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Minggu 28 Maret 2021, sekira pukul 10.20 Wita. Ledakan yang diduga berasal dari bom bunuh diri ini menyebabkan 19 orang terluka, kemudian ada 2 orang meninggal dunia yang diduga sebagai para pelaku.

Hingga kini para korban luka ringan atau kritis masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Makassar. Laporan sementara, ada 4 orang yang mengalami luka kiritis.

Baca juga: Polri: Pelaku Bom di Gereja Katedral Diduga 2 Orang 

"Sampai saat ini jumlah korban bertambah menjadi 19 orang. Itu di luar korban yang diduga pelaku," kata Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Merdisyam saat memberikan keterangan kepada iNews TV, Minggu (28/3/2021).

Dari segi kesehatan, ledakan bom bisa meninggalkan gangguan kesehatan bagi korban selamat, salah satunya adalah trauma. Dr Michael Craig Miller MD dari Harvard Mental Health mengungkapkan bahwa beberapa orang yang berada di lokasi ledakan bom pasti akan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca-trauma.

"Tetapi, PTSD bukanlah satu-satunya dampak terhadap peristiwa menakutkan. Faktanya, kebanyakan orang yang terkena trauma tidak mengembangkan kondisi ini. Mereka mungkin mengembangkan gangguan kecemasan, misalnya, atau menjadi depresi. Kebanyakan orang memang memiliki respons emosional, tetapi mayoritas tidak mengembangkan penyakit sama sekali," ungkap Dr Michael, seperti dikutip dari laman Harvard, Minggu (28/3/2021).

Baca juga: Korban Bom di Gereja Katedral Makassar Bertambah Jadi 19 Orang 

Ia melanjutkan, PTSD dapat dipicu pengalaman traumatis apa pun yang melibatkan ancaman yang signifikan terkait kematian, cedera serius, atau kerusakan fisik. Peristiwa seperti ini juga bisa menimbulkan ketakutan, ketidakberdayaan, atau kengerian yang intens. Seseorang mungkin mengalami peristiwa tersebut secara langsung, menyaksikannya, atau dihadapkan dengan cara lain.

Bagi siapa pun yang terkait peristiwa ledakan bom, ada baiknya mengetahui sedikit tentang PTSD. Apakah mengalami PTSD atau tidak, sebab makin cepat gejala muncul, makin mudah mengatasinya.

PTSD umumnya menyebabkan tiga macam gejala, yakni:

1. Hyperarousal.

Penderita PTSD biasanya mengalami hyperarousal. Ia menjadi mudah tersinggung, mudah terkejut, dan terus-menerus waspada. Lalu kurang tidur dan sulit berkonsentrasi.

Baca juga: Bom di Gereja Katedral, Jokowi: Terorisme Tak Ada Kaitannya dengan Agama Apa pun 

2. Terus mengalami traumatis

Peristiwa traumatis tanpa sadar muncul di benak sebagai kenangan yang hidup, mimpi buruk, atau kilas balik. Seseorang dengan PTSD mungkin merasa atau bertindak seolah-olah peristiwa traumatis itu terjadi lagi. Objek, situasi, atau perasaan apa pun yang mengingatkan orang tersebut pada trauma dapat menyebabkan tekanan yang hebat.

3. Merasa terasing

Penderita PTSD coba menghindari perasaan, pikiran, orang, tempat, dan situasi yang membangkitkan ingatan akan trauma. Mereka kehilangan minat pada aktivitas biasa. Mereka merasa terasing dari orang lain dan bahkan dari perasaan diri sendiri.

"Seorang profesional kesehatan mental harus dapat mendeteksi gejalanya untuk membantu membuat penilaian apakah PTSD adalah masalah utama atau tidak," pungkas Dr Michael.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini