Share

KDRT Mewarnai Gugat Cerai Thalita Latief, Begini Dampak Kekerasan terhadap Korban

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 29 Maret 2021 12:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 29 612 2385845 kdrt-mewarnai-gugat-cerai-thalita-latief-begini-dampak-kekerasan-terhadap-korban-kOc0W7Xl2c.jpg Thalita Latief (Foto: Inst)

Aktris Thalita Latief mengunggat cerai suaminya Dennis Rizky alias Dennis Lyla di Pengadilan Agama Jakarta Pusat pada 22 Maret 2021. Diduga perpisahannya itu akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun perempuan 32 tahun itu enggan membeberkan secara detail masalah yang sebenarnya.

"Masalahnya itu sudah lama, bukan baru. Kan banyak spekulasi ini itu, enggak sama sekali, itu salah. Problem yang saya alami itu sudah lama," ungkap Thalita di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, 28 Maret 2021.

 Thalita

Sementara itu, Psikolog sekaligus Konselor dari Expert Consultan, Dian L Izwar mengatakan, KDRT bisa berbentuk fisik, psikilogis, seksual, dan ekonomi. Serta dapat berdampak pada sikap dan perilaku korban.

Dampak yang dialami kepada korban KDRT, kata Dian, tergantung pada persepsi masing-masing terhadap tindakan kekerasan yang dialaminya.

"Ada yang merasa dirinya tidak berharga, ada yang menjadi mudah cemas, sering takut, mudah marah atau merasa tertekan," katanya saat dihubungi MNC Portal, Senin (29/3/21).

"Dampak pada kesehatan mental biasanya ada, seberapa besar dampaknya tergantung pada persepsi setiap individu," tambahnya.

Begitu juga dengan anak, juga bisa menjadi korban atas KDRT yang terjadi di keluarganya. Apabila sang buah hati melihatnya langsung, maka kesehatan mentalnya bisa saja ikut terganggu.

"Anak yang menyaksikan KDRT tentunya juga akan terdampak, terutama secara psikilogis. Mereka bisa mempunyai persepsi yang keliru mengenai relasi orangtuanya," terangnya.

Dian menambahkan, apabila suatu rumah tangga tengah terjadi KDRT lebih baik pasangan suami-istri disarankan untuk berkonsultasi bantuan dari profesional.

Berkonsultasi kepada orang profesional, maka akan dibantu mencari jalan keluar. Serta meminimalisir adanya kekerasan dalam rumah tangga, di mana dapat merugikan sebagian pihak. Baik secara fisik maupun mental.

"Menurutnya, korban perlu meningkatkan rasa percaya diri, dan berlatih melindungi dirinya sendiri. Sementara pelaku perlu menyadari akibat dari perilakunya dan berusaha untuk dapat mengendalikan diri.

"Perceraian adalah pintu darurat, gunakan apabila memang sudah tidak ada cara lain untuk keluar dari sebuah situasi yang berbahaya," pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini