Rambut Rontok Setelah Sambut Covid-19, Tanda Anda Kena Long Covid

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 29 Maret 2021 20:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 29 612 2386126 rambut-rontok-setelah-sambut-covid-19-tanda-anda-kena-long-covid-7C8K7kz8Ne.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

COVID-19 memang memberikan dampak yang berbeda bagi para penyintasnya. Mungkin yang paling sering terjadi adalah kehilangan indra penciumannya meskipun sudah sembuh.

Nah, beberapa gejala yang tersisa tersebut lebih dikenal dengan nama gejala berkepanjangan atau long covid-19. Adapun gejala long covid-19 salah satunya adalah rambut rontok.

Long covid-19 sendiri istilah yang digunakan untuk menentukan gejala yang dihadapi penderita covid-19 selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah penyakit awal.

Menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris, long covid-19 berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Namun, penelitian lain mengklaim gejalanya dapat berlangsung selama lebih dari 8 minggu untuk menjadi long covid-19.

Seperti dilansir laman Times of India, Kantor Statistik Nasional Inggris Raya (ONS) menjelaskan bahwa 1 dari 5 pasien covid-19 menunjukkan gejala selama 5 minggu atau lebih.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal The lancet baru-baru ini mengklaim bahwa orang yang selamat dari covid-19 menghadapi gejala bahkan setelah 6 bulan pemulihan, gejala rambut rontok menjadi sumber perhatian utama.

Meskipun alopecia atau rambut rontok merupakan masalah umum dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia karena berbagai alasan, temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa itu bisa menjadi gejala long covid-19.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet, seperempat pasien covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh mengeluhkan rambut rontok sebagai efek samping utama covid-19.

 Para peneliti yang melakukan penelitian mengevaluasi 1.655 pasien yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, China, di mana 359 orang (22 persen) pernah mengalami kerontokan rambut 6 bulan setelah dipulangkan.

Studi tersebut melanjutkan untuk menentukan bahwa rambut rontok lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.

Selain rambut rontok, temuan penelitian juga melaporkan prevalensi gejala seperti kelelahan atau kelemahan otot, kesulitan tidur, serta kecemasan atau depresi.

"Pasien yang sakit parah selama tinggal di rumah sakit memiliki gangguan kapasitas difusi paru yang lebih parah dan manifestasi pencitraan dada yang abnormal, dan merupakan populasi target utama untuk intervensi pemulihan jangka panjang," tulis laporan tersebut.

Sementara rambut rontok dilaporkan pada 22 persen pasien, 26 persen mengeluhkan kesulitan tidur dan kecemasan, serta depresi dilaporkan pada 23 persen pasien.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini