Apa yang Terjadi jika Kelebihan dan Kekurangan Penyuntikan Dosis Vaksin Covid-19?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 01 April 2021 17:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 481 2388003 apa-yang-terjadi-jika-kelebihan-dan-kekurangan-penyuntikan-dosis-vaksin-covid-19-RX0g6BRzA8.jpg Vaksin Covid-19 (Foto: The New York Times)

Selama berjalannya program vaksinasi Covid-19, banyak pertanyaan yang muncul di masyarakat terkait dengan vaksin Covid-19. Salah satunya mempertanyakan dampak yang terjadi akibat kelebihan dan kekurangan vaksin selama proses penyuntikan.

Menjawab hal tersebut, Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i memberikan penjelasan lewat video singkat yang diunggah di akun Instagramnya @dr.fajriaddai, menurutnya dampak yang terjadi bisa muncul tergantung dari seberapa banyak kelebihan dosis yang diterima seseorang.

 Vaksin Covid-19

“Yang kita pakai untuk dosis vaksin yang disuntikkan sekitar 3 mikrogram padahal di uji klinis ada yang dosisnya sampai 6 mikrogram. Jadi jika kelebihan, dua kali dosis misalnya, itu gak kenapa-kenapa. Tidak berbahaya asalkan dalam rentang tersebut,” terang dr. Fajri dalam unggahannya.

Dokter Fajri mengatakan, apabila jika kelebihan dosis tidak sengaja, maka tidak akan terjadi hal apapun. Namun, kalau kelebihannya sampai 10 kali dosis vaksin yang dianjurkan, maka efeknya tentu belum diketahui.

“Yang jelas itu namanya disengaja kalau dosisnya sampai berkali-kali lipat. Tapi kalau berbicara tidak disengaja, mungkin saja terjadi. Apakah ada? Mungkin saja ada, tapi saya tidak tahu,” lanjutnya.

Namun, apa jadinya apabila kekurangan dosis vaksin? Menurut dr. Fajri, kekurangan dosis vakisn mungkin akan membuat imunitas tubuh tidak optimal terbentuknya. Misalnya harus disuntikkan dua kali dengan dosis 3 mikrogram dengan jeda tertentu 14 hari atau 28 hari, lalu seseorang hanya disuntikkan satu kali. Bisa saja kekebalannya belum tentu optimal terbentuk.

“Karena hasil-hasil angka yang terbentuk dalam uji klinis tersebut itu didapatkan dari suntikan dua kali dalam kondisi tertentu. Jadi kita gak tahu, apa yang kita lakukan sekarang betul-betul dengan hasil uji klinisnya, yaitu disuntikkan berapa kali, siapa saja yang diperbolehkan, itu berdasarkan penelitian.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini