Terduga Teroris Kembali Menyerang, Apa Bedanya dengan Psikopat?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 01 April 2021 09:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 612 2387606 terduga-teroris-kembali-menyerang-apa-bedanya-dengan-psikopat-NvMWT39Vwv.jpg Ilustrasi penangkapan terduga teroris. (Foto: Okezone)

AKSI penyerangan oleh terduga teroris kembali terjadi di Indonesia. Rabu 31 Maret 2021, sekira pukul 16.30 WIB, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, diserang oleh terduga teroris. Namun aksi pelaku yang merupakan seorang perempuan berinisial ZA (25) itu berhasil digagalkan. Pelaku pun terpaksa dilumpuhkan petugas.

Sebelumnya publik Tanah Air juga dikagetkan peristiwa ledakan bom high-explosive di Gereja Katedral Makassar di Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Minggu 28 Maret 2021, sekira pukul 10.20 Wita. Ledakan yang diduga berasal dari bom bunuh diri ini menyebabkan 20 orang terluka, kemudian ada 2 orang meninggal dunia yang diduga sebagai para pelaku.

Baca juga: Pengamat: Penyerangan ke Mabes Polri Merupakan Aksi Terencana untuk Bunuh Diri 

Terkait kejadian-kejadian tersebut, banyak orang bertanya-tanya, siapakah pelaku teror di Indonesia? Terduga teroris atau psikopat? Terkadang sedikit kesulitan membedakannya. Pasalnya, kedua karakter ini sama-sama bertindak jahat terhadap para korbannya. Melalui artikel ini, coba dibahas sedikit perbedaan di antara keduanya.

Menurut dokter psikologi, Oriza Satvia, cara menilai teroris dan psikopat adalah dengan tujuannya. Teroris cenderung menakuti dan bertujuan menghabisi atau membunuh korbannya. Sementara psikopat memiliki kecenderungan menakut-nakuti dan menyiksa korbannya secara perlahan.

Baca juga: Serangan Bom Makassar, Ma'ruf Amin: Pemerintah Terus Upayakan Kontra Radikal 

Psikopat sengaja melakukan hal tersebut agar korbannya merasa takut, panik, menangis, kesakitan, berteriak sebelum akhirnya pasrah. Meski demikian, kematian korban bukanlah menjadi sesuatu yang diharapkan dalam diri seorang psikopat.

"Dalam kondisi tertentu, jika seorang korban psikopat meninggal dunia, maka hal tersebut bukanlah tujuan utama dari sang pelaku. Para psikopat menikmati sensasi dari teriakan, tangisan, dan rintihan minta ampun dari korbannya. Mereka sebenarnya tidak menghendaki si korban untuk mati, tapi lebih menyukai sensasi ketika sang korban merasakan penderitaan," jelas Oriza.

Secara sederhana, ia menilai bahwa teroris bertujuan menciptakan teror, rasa takut, dan mencekam terhadap korbannya. Berbeda pada psikopat yang sangat menikmati rasa takut dari para korban dan suasana mencekam yang ada di sekelilingnya.

Dia berharap masyarakat bisa lebih tepat membedakan antara teroris dan psikopat. Para psikopat belum tentu teroris, namun teroris kemungkinan besar adalah psikopat.

Baca juga: Bom di Gereja Katedral Makassar High Explosive, Ini Cedera yang Bisa Ditimbulkan 

Selain menjelaskan tentang perbedaan teroris dan psikopat, ia juga mengimbau masyarakat tidak terlalu takut dengan ancaman teroris. Bersikap tenang merupakan kunci yang paling ampuh ketika berhadapan dengan para pelaku.

"Tetap tenang dengan apa pun yang terjadi dan apa pun yang mereka lakukan. Selain itu, Anda juga tidak boleh terpancing dengan apa pun hal yang mereka lakukan," pungkasnya.

Polisi Lakukan Olah TKP di Gereja Katedral Makassar

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini