Kasus Terorisme Dilakukan Anak Muda, Benarkah Mereka Mudah Terpengaruh Radikalisme?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 01 April 2021 10:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 612 2387635 kasus-terorisme-dilakukan-anak-muda-benarkah-mereka-mudah-terpengaruh-radikalisme-88muRUOTMi.jpg Ilustrasi penangkapan pelaku terorisme. (Foto: Okezone)

DUA kasus terorisme terjadi berdekatan di Indonesia. Diawali bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada Minggu 28 Maret pagi. Kemudian bersambung ke upaya penembakan polisi di Mabes Polri pada Rabu 31 Maret sore.

Berdasar catatan polisi, pelaku dari dua kejadian terorisme tersebut berusia muda. Pasangan yang melakukan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar diketahui sama-sama berusia 26 tahun, sedangkan pelaku penyerangan di Mabes Polri diketahui berusia 25 tahun.

Baca juga: Terduga Teroris Kembali Menyerang, Apa Bedanya dengan Psikopat? 

Dapat dikatakan dua kasus terorisme tersebut dilakukan oleh anak muda atau generasi milenial. Hal ini tentu meresahkan banyak pihak, bukan hanya soal keamanan negara tapi juga bagaimana karakter penerus bangsa selanjutnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah generasi milenial memang mudah dihasut? Mudah dipropaganda? Mudah menelan paham radikalisme?

Psikolog klinis Meity Arianty menerangkan bahwa ini bukan soal umur, karena usia bukanlah faktor utama manusia mudah dipropaganda. Di sisi lain, faktor lingkungan memberi peran cukup penting dalam pembentukan karakter seseorang.

Baca juga: Bom di Gereja Katedral Makassar High Explosive, Ini Cedera yang Bisa Ditimbulkan 

"Faktor lingkungan dapat menjadi salah satu faktor yang berperan dalam membentuk perilaku seseorang dan menurut Luckabaught proses menjadi teroris itu tidak terjadi dalam waktu semalam," terang Mei kepada MNC Portal, Kamis (1/4/2021).

Dikarenakan lingkungan memberikan peran yang cukup besar, penting bagi anak muda memilah pertemanan serta lingkungan pergaulan. "Cari lingkungan yang sehat, lihat dengan siapa kamu bergaul dan jangan lupa media sosial dan media massa dapat berperan dalam pembentukan sikap, persepsi, dan kepercayaan seseorang," katanya.

Kemudian Mei juga menyarankan agar anak muda memperkaya literasi dalam hal apa pun, termasuk soal agama. Ini penting agar punya benteng yang kuat dan tidak mudah terpengaruh orang lain.

"Perbanyak membaca dan mencari informasi yang valid agar memiliki gambaran utuh tentang suatu hal, sehingga tidak mudah dipengaruhi paham-paham sesat," ungkap Mei.

Baca juga: Perintahkan Aparat Tingkatkan Kewaspadaan, Jokowi: Mari Bersatu Lawan Terorisme 

Sementara itu, ia juga berharap kasus terorisme ini tidak kemudian membuat masyarakat mudah terprovokasi yang justru menyebabkan perpecahan. Ia meminta masyarakat paham bahwa ini dilakukan oleh oknum.

"Kita masyarakat jangan mau dan mudah terprovokasi. Ini bukan masalah agama, ini oknum yang ingin mengganggu ketenangan bangsa. Jangan sampai perbuatan yang tidak bertanggung jawab seperti ini menimbulkan perpecahan, menebar kebencian, dan mengatasnamakan suatu agama tertentu," pungkasnya.

Usai Serangan Terduga Teroris, Polisi Bersenjata Lengkap Amankan Kawasan Mabes Polri

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini