Kenali Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca, Teknologi hingga Efek Sampingnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 05 April 2021 09:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 05 481 2389365 kenali-perbedaan-vaksin-sinovac-dan-astrazeneca-teknologi-hingga-efek-sampingnya-WmKz2hGftM.jpg Ilustrasi Vaksin Sinovac dan AstraZeneca. (Foto: Freepik)

PEMERINTAH telah memulai program vaksinasi nasional covid-19 sejak 13 Januari 2021. Dari sekian banyak vaksin yang tersedia, Indonesia baru menggunakan dua merek atau jenis yakni Vaksin Sinovac yang berasal dari China dan AstraZeneca dari Inggris.

Kedua jenis vaksin tersebut sudah didistribusikan dan dibagikan kepada kelompok masyarakat prioritas. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang bingung serta belum mengetahui perbedaan dari dua vaksin yang digunakan di Indonesia tersebut.

Merangkum dari laman South China Morning Post, Senin (5/4/2021), berikut penjelasan mengenai perbedaan dari Vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang digunakan di Tanah Air.

Baca juga: Warga Sulut Demam Usai Dapat Vaksin AstraZeneca, Ini Penjelasan Komnas KIPI 

Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Okezone)

Teknologi Vaksin

Vaksin Sinovac yang pertama kali didatangkan pemerintah pada awal Desember 2020 berbasis inactivated virus, atau virus yang telah dimatikan, sehingga aman digunakan. Secara kinerja, vaksin Sinovac bekerja secara konvensional.

Vaksin Sinovac bekerja dengan memaparkan tubuh pada virus mati yang telah diobati dengan panas, bahan kimia, atau radiasi sehingga tidak dapat menginfeksi sel dan menggandakannya. Tujuannya untuk memicu respons kekebalan tubuh.

Sementara Vaksin AstraZeneca memiliki basis teknologi viral vector yakni menggunakan virus yang tidak berbahaya, yang disebut vektor. Fungsinya untuk mengirimkan sebagian kecil materi genetik covid-19 ke dalam sel tubuh.

Materi genetik ini kemudian akan bereplikasi untuk memicu respons imun dan produksi antibodi.

Baca juga: Tetap Dilakukan saat Ramadhan, Vaksinasi Covid-19 Tak Batalkan Puasa Kok 

Dosis yang Diperlukan

Vaksin yang tersedia memerlukan dua dosis untuk menghasilkan perlindungan sempurna. Namun, beberapa jenis vaksin harus disimpan di tempat dengan suhu dingin.

Selain itu, setiap vaksin memiliki perbedaan waktu dalam pemberian dosis kedua. AstraZeneca merekomendasikan jeda 4 minggu, diperpanjang hingga 12 minggu untuk penyuntikan kedua. Sementara Vaksin Sinovac harus diberikan dengan jarak 2 minggu setelah penyuntikan pertama.

Tingkat Efektivitas

Pihak AstraZeneca mengklaim vaksinnya memiliki nilai efektivitas keseluruhan 70,4 persen. Menurut penelitian, Vaksin AstraZeneca 90 persen efektif jika diberikan setengah dosis, diikuti dengan dosis penuh.

Efektivitasnya turun menjadi 62 persen jika diberikan dalam dua dosis penuh, selang 4 minggu. Meski demikian, vaksin AstraZeneca masih tetap efektif setelah digunakan 12 minggu antardosis.

Pada uji coba terbaru Vaksin Sinovac di Brasil, tingkat efektivitasnya hanya menunjukkan angka 50,4 persen. Sementara uji coba terpisah di Indonesia dan Turki menemukan bahwa Vaksin Sinovac memiliki efikasi sebesar 65,3 dan 91,25 persen.

Vaksin AstraZeneca. (Foto: Reuters)

Baca juga: Dari Target 40 Juta, Baru 8,5 juta Orang Dapat Vaksin Covid-19 

Efek Samping

Vaksin bekerja dengan cara melatih sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi saat menghadapi penyakit. Banyak efek samping yang merupakan respons imun yang umum terjadi. Biasanya seseorang akan merasa nyeri di bagian tubuh yang disuntik.

Selain itu, efek samping dari kedua vaksin ini relatif sama. Di antaranya adalah demam atau menggigil, nyeri pada persendian dan otot, serta perasaan tidak enak badan secara umum. Ini biasanya berlangsung selama beberapa hari. Tapi, tidak semua orang akan mengalami gejalanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini