Konsep Salah dan Benar Bisa Dimanipulasi, Psikolog Sebut Anak Harus Dikenalkan dengan Cinta Kasih

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 06 April 2021 18:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 612 2390374 konsep-salah-dan-benar-bisa-dimanipulasi-psikolog-sebut-anak-harus-dikenalkan-dengan-cinta-kasih-Ym76eWIWT2.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ANAK muda memang menjadi generasi yang diharapkan dapat membangun bangsa ini. Tapi, anak muda juga tidak bisa ditinggal begitu saja, apalagi mereka yang masih remaja.

Pasalnya, mereka masih memiliki kepribadian yang labil, sehingga sangat berbahaya jika mendapatkan feedback negatif. Oleh karena itu, karakter seseorang harus dikuatkan agar tidak terpengaruh hal-hal negatif, apalagi sampai terpapar paham terorisme.

Psikolog Klinis Meity Arianty menerangkan, lingkungan adalah faktor utama, ketika berbicara membentuk karakter seseorang.

"Faktor lingkungan dapat menjadi salah satu faktor yang berperan dalam membentuk perilaku seseorang dan menurut Luckabaught, proses menjadi teroris itu tidak terjadi dalam waktu semalam," terang Mei pada MNC Portal Indonesia.

Meskipun, menurutnya hampir setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk dipropaganda. Meski demikian, ketika masih muda maka pergaulan dan pertemanan cakupannya memang lebih besar ketimbang saat kita dewasa.

"Lihat dengan siapa Kamu bergaul dan jangan lupa media sosial dan media massa dapat berperan dalam pembentukan sikap, persepsi, dan kepercayaan seseorang," katanya.

Selain itu, Mei juga menyarankan agar anak muda memperkaya literasi dalam hal apapun, termasuk soal agama. Ini penting agar punya benteng yang kuat dan tidak mudah terpengaruh orang lain.

"Perbanyak membaca dan mencari informasi yang valid agar memiliki gambaran utuh tentang suatu hal, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh paham-paham sesat," ungkap Mei.

Tidak hanya itu, orangtua pun memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan anak remaja mereka tidak mudah dihasut paham radikalisme. Ketika orangtua memastikan pemberian cinta yang utuh kepada anaknya, itu akan menjadi benteng buat si anak saat terjun ke masyarakat.

Mei menegaskan bahwa sumber dukungan paling besar setiap anak adalah keluarganya. Lewat dukungan itu, anak memiliki kontrol dalam bersikap saat dirinya sudah terjun ke masyarakat.

"Karena dukungan itu, anak-anak jadi punya rambu, kontrol, atau batasan yang dia peroleh dari keluarganya dan itu akan dia pakai saat bersosialisasi dengan orang lain di luar rumahnya," kata Mei.

Menurutnya, dalam teori Attachment disebutkan beberapa konsekuensi jangka panjang pada anak-anak yang kehilangan sosok orangtua dalam proses bertumbuhnya, misal kehilangan ibu, si anak cenderung rentan mengalami perilaku antisosial, masalah emosional, dan kenakalan remaja.

Jika hal itu terjadi pada anak-anak, terdapat celah bagi paham-paham yang merugikan, seperti paham radikalisme, masuk ke kehidupan si anak. Dengan kata lain, anak dengan kondisi orangtua tidak lengkap lebih mudah didoktrin dan terpengaruh akan pemahaman-pemahaman yang tidak utuh.

"Saya di sini enggak bilang pemahaman yang salah, karena konsep salah dan besar mengenai beberapa hal seringkali berbeda sehingga alangkah baiknya jika seseorang memiliki konsep yang utuh dalam hal agama, sosial, atau politik," ujarnya.

Mei melanjutkan, dari semua itu hal mendasar yang harus diajarkan ke anak adalah cinta kasih, cinta damai, dan tenggang rasa. Ini tugas orangtua juga agar si anak belajar bagaimana menghargai orang lain yang berbeda dengan dirinya, beda sukunya, beda agamanya, beda pemahamannya, dan beda cara pandangnya.

"Anak harus diajarkan sedini mungkin tentang konsep mencintai dalam artian yang luas sehingga saat ia dewasa, ia hanya mengenal cinta kasih," kata Mei.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini