Kebalikan Insomnia, Kenali Penyakit Hipersomnia Alias Kebanyakan Tidur

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 April 2021 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 481 2391667 kebalikan-insomnia-kenali-penyakit-hipersomnia-alias-kebanyakan-tidur-sRZdbx23Oa.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Jika Anda selama ini hanya tahu insomnia, maka Anda harus tahu kalau ada kondisi kesehatan kebalikannya. Dalam dunia medis, penyakit tersebut dinamakan idiopathic hypersomnia atau hipersomnia alias mudah sekali tidur.

Studi yang diterbitkan di American Journal of Managed Care (AJMC) menjelaskan bahwa hipersomnia sering kali 'tumpang tindih' dengan gangguan tidur lain yang lebih umum seperti narkolepsi.

"Namun, tidak seperti narkolepsi, hipersomnia tidak memiliki terapi yang disetujui FDA, sehingga pasien kebanyakan berjuang sendiri dengan kendala yang mereka hadapi di sekolah, lingkungan sosial, mapun dunia kerjanya," kata laporan tersebut.

Hipersomnia

Profesor Klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Carolina Selatan, dr Richard K. Bogan, MD, FCCP, FAASM, menerangkan bahwa rasa kantuk dan kelelahan bisa disalahartikan sebagai gangguan kejiwaan seperti depresi, gangguan kepribadian, atau masalah perhatian.

"Gejala kantuk ini sering kali tidak dapat terukur dengan baik sehingga penegakkan diagnosisnya memerlukan pemeriksaan yang cukup panjang," kata dr Bogan.

Bogan melanjutkan, pasien dengan gejala kantuk berlebih dapat hidup dengan gejala tersebut bertahun-tahun sebelum akhirnya dia menerima diagnosis. Ini ternyata memengaruhi hasil pemeriksaan si pasien sendiri.

Baca Juga : Sering Mengantuk saat Siang Hari, Bisa Jadi Anda Menderita Hipersomnia

Baca Juga : Manfaat Daun Pandan yang Wajib Diketahui, Ampuh Atasi Insomnia Lho

Seorang pasien hipersomnia harus sampai keluar dari perkuliahannya karena gangguan tidur yang dialami benar-benar mengganggu aktivitas dia di kampus.

"Setelah saya didiagnosis hipersomnia, saya pikir saya tetap bisa kuliah tetapi akhirnya saya harus keluar karena saya tidak bisa masuk kelas dan tetap terjaga di kasur. Pekerjaan saya pun selalu berantakan akibat jam tidur yang terlalu panjang," kata Meghan M, pasien berusia 26 tahun.

Hipersomnia

Soal kapan Meghan menerima diagnosisnya, dia menjelaskan setelah 5 tahun hidup dengan gangguan kesehatan tersebut. Itu pun karena dosennya di kampus menyadari ada yang salah dengan Meghan dan memintanya pergi ke dokter karena dicurigai narkolepsi.

"Saya enggak sadar punya masalah ini sebelum akhirnya dosen di kampus mencurigai adanya hal yang aneh di diri saya karena beberapa kali melihat saya berhalusinasi di kelas. Pemeriksaan panjang pun saya jalani dan ternyata dugaan dosen saya keliru, saya bukan mengidap narkolepsi melainkan idiopatik hipersomnia," tuturnya.

Lantas, bagaimana mengenali gejala hipersomnia ini?

Dikutip dari Health Line, ada beberapa tanda atau gejala yang kemungkinan dapat dibaca dokter untuk mendiagnosis apakah Anda mengalami hipersomnia, apa saja?

Gejala umum hipersomnia adalah rasa lelah yang terus menerus. Kemudian, orang dengan hipersomnia mungkin tidur siang sepanjang hari dan ketika bangun rasa ngantuknya enggak hilang.

"Pasien hipersomnia juga susah untuk dibangunkan ketika dia mengalami tidur dengan waktu yang panjang," kata laporan tersebut.

Gejala lain dari hipersomnia adalah energinya rendah, mudah marah, gelisah, kehilangan selera makan, berpikir atau berbicara lambat, kesulitan mengingat sesuatu, dan resah.

Siapa yang berisiko mengalami masalah hipersomnia?

Mereka yang sering merasa capek di siang hari paling berisiko mengalami hipersomnia. Kondisi ini termasuk mereka yang mempunyai riwayat apnea tidur, kondisi ginjal, kondisi jantung, kondisi otak, depresi atipikal, dan fungsi tiroid yang rendah.

Secara khusus, American Sleep Association menyatakan bahwa pria lebih banyak yang mengalami hipersomnia dibanding perempuan. Salah satu faktornya karena pria kebanyakan perokok dan peminum yang mana dua kelompok itu pun masuk ke dalam kelompok berisiko hipersomnia.

Hipersomnia

Lalu, bagaimana pengobatan hipersomnia?

Banyak obat yang ditujukkan untuk narkolepsi dapat juga dipakai untuk mengatasi hipersomnia, termasuk amfetamin, methylphenidate, dan modafinil. Obat-obatan ini adalah stimulan yang membantu Anda merasa lebih terjaga alis membantu Anda lebih lama melek.

Perubahan gaya hidup juga penting dilakukan. Dokter biasanya akan merekomendasikan pasien hipersomnia untuk mengubah jam tidur. Diminta juga untuk menghindari aktivitas tertentu juga dapat dimasukkan sebagai upaya pengobatan.

Disarankan juga pasien hipersomnia untuk tidak mengonsumsi alkohol. Tidak hanya itu, mengatur asupan makanan pun akan disarankan untuk menjaga tingkat energi secara alami.

Menjadi catatan di sini bahwa hipersomnia tidak dapat dicegah. Namun, Anda dapat menurunkan risiko dengan menciptakan lingkungan tidur yang damai dan jauhi alkohol, hindari obat-obatan yang menyebabkan kantuk, dan hindari bekerja hingga larut malam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini