NTT Jadi Wilayah Kasus Stunting Tertinggi di Indonesia

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 08 April 2021 22:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 481 2391682 ntt-jadi-wilayah-kasus-stunting-tertinggi-di-indonesia-k98lCXFAjC.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan, daerah dengan jumlah stunting tertinggi adalah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Stunting paling tinggi memang di daerah NTT, Papua sebagian di Kalimantan Barat masih tinggi. Jadi kita harus kerja keras," ujarnya dalam konferensi pers Pencanangan Gerakan Nasional #IndonesiaBebasStunting2030, di Jakarta Selatan Kamis (8/4/21).

Ia melanjutkan, wilayah Indonesia bagian Timur perlu lebih diperhatikan, kawasan tersebut sebagai kantong atau banyak yang mengalami stunting.

"Memang kenyataannya begitu, di samping itu kantongnya di mana di daerah yang pendidikannya rendah, dan daerah yang ada termarjinal atau geografisnya agak sulit," terangnya.

Stunting

Sementara itu Direktur Eksekutif Yayasan Kesehatan Perempuan, Nanda Dwinta Sari menuturkan, permasalahan terbesar dalam pengentasan stunting adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya stunting.

"Hal tersebut menyebabkan masyarakat masih mengabaikan gizi yang seimbang dan kebersihan yang menjadi kontributor penyebab stunting," terangnya.

Baca Juga : Simak, Ini Cara Menekan Risiko Stunting pada Anak

Baca Juga : Cegah Stunting, Berapa Panjang Bayi Ideal saat Lahir?

Kemudian, hal ini ditunjukkan dengan tingginya jumlah ibu hamil yang menderita anemia, kondisi yang berisiko tinggi untuk melahirkan anak yang stunting. Oleh karenanya, program pendampingan stunting harus efektif di tingkat keluarga, khususnya ibu, agar bayi dapat selamat dari resiko stunting.

"Dari berbagai program peningkatan kesehatan perempuan yang kami lakukan di lebih dari 15 wilayah, kami melihat bahwa kesehatan ibu merupakan tonggak utama kesejahteraan anak dan keluarga," katanya.

Menurut data 2019, jumlah kasus stunting di Indonesia mencapai 29,67 persen, lebih tinggi dari dari angka standar WHO yaitu 20 persen. Data terkini juga menunjukkan bahwa sekitar 9 juta balita Indonesia saat ini mengalami stunting, yang artinya 1 dari 3 bayi yang dilahirkan terdiagnosa stunting.

Kondisi pandemi yang terjadi pada tahun lalu hingga kini, diyakini memperburuk jumlah angka stunting, seluruh aspek pasti terpengaruh terutama perekonomian, yang tentu saja berdampak pada tumbuh kembang anak. Sebanyak 60 persen posyandu tidak menjalankan fungsinya, dan lebih dari 86 persen program stunting berhenti akibat pandemi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini