Sekolah Online di Tengah Pandemi, Anak Tak Hanya Butuh Tugas Saja

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 08 April 2021 10:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 612 2391256 sekolah-online-di-tengah-pandemi-anak-tak-hanya-butuh-tugas-saja-U6391LXX2w.jpg Sekolah online (Foto: Online Studies)

Pandemi Covid-19 belum berakhir meskipun pemerintah sudah berusaha keras agar penularan Covid-19 berkurang. Salah satunya dengan terus melakukan sekolah online.

Murid-murid diminta belajar online di rumah saja guna menekan penularan virus corona. Mereka memakai smartphone maupun laptop untuk belajar online.

Pengamat Pendidikan Itje Chodidjah mengatakan, sejatinya sekolah online bisa berjalan dengan baik. Namun saat sekolah online guru sebaiknya banyak berinteraksi dengan para murid. Akan menjadi masalah jika guru hanya memberikan tugas pada murid-murid saat sekolah online.

sekolah online

"Memang ada beberapa sekolah ternyata masih menganggap murid-murid hanya butuh tugas, tetapi tidak diberikan ilmu yang bisa didiskusikan di dalam kelas," ujar Itje beberapa waktu lalu.

"Sejatinya anak sekolah itu tak hanya butuh soal dan tugas saja. Namun guru memang harus memberikan pelajaran untuk didiskusikan dalam kelas online. Jadi, si guru bukan hanya menagih tugas saja," ungkap Itje.

Penerapan sekolah online yang hanya memberikan tugas itu kurang baik dan kepala sekolah mesti mengevaluasi tindakan semacam itu. "Kepala sekolah itu pengontrol sekolah secara umum dan dia mesti kontrol gurunya dalam melakukan sistem pendidikan," katanya.

Dalam melaksanakan sekolah online tentu para murid membutuhkan berbagai perangkat seperti smartphone maupun laptop.

Kekurangan perangkat juga jadi salah satu kendala yang dialami murid dalam belajar online.

Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri karena masih banyak murid yang tidak memiliki fasilitas penunjang belajar online yang memadai seperti smartphone dan kuota internet seperti diungkapkan oleh General Manager Brand Communication and Content- Analgesic, Cough and Cold, and Herbal Products, Audrey Y Gandadjaja. Menurutnya, berdasarkan laporan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), sebanyak 50 persen lebih siswa tidak memiliki smartphone.

Hal ini berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang telah menginput 21,7 juta nomor ponsel siswa dari total 44 juta murid di seluruh Indonesia.

"Mereka yang belum memiliki smartphone tentu akan merasakan kesulitan untuk mengikuti pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh dan bahkan terancam putus sekolah karena tidak punya fasilitas belajar online," terang Audrey,

Oleh karena itu, guna membantu mengatasi tantangan tersebut, pihaknya memberikan bantuan berupa ratusan paket smartphone dan kuota internet kepada siswa-siswa SD yang tidak memiliki fasilitas belajar online melalui sekolah-sekolah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Lampung, dan Samarinda.

"Smartphone didonasikan tersebut akan menjadi inventaris sekolah untuk dipinjamkan kepada siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas dalam proses sekolah online," kata Audrey.

Sementara itu pemerintah terus melakukan vaksinasi Covid-19 kepada para guru di berbagai wilayah di Tanah Air. Jika semua guru sudah divaksin Covid-19, maka pemerintah akan mengizinkan sekolah tatap muka kembali dibuka. Apalagi sudah banyak anak yang merasa bosan dan sedih karena tak bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah seperti dulu.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini