Kemenparekraf Luncurkan E-Book Fashion Trend 2021/2022

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 09 April 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 194 2391904 kemenparekraf-luncurkan-e-book-fashion-trend-2021-2022-98DdlmJrM4.jpg Fashion trend (Foto: Pradita/Okezone)

Guna lebih menggiatkan industri mode lokal karya anak bangsa, sekaligus menggenjot salah satu sektor industri kreatif yang ikut terdampak akibat pandemi Covid1-9. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) baru saja merilis hasil riset tentang tren mode fesyen.

Hasil riset tersebut dituangkan dalam buku berjudul Trend Forecast 2021/2022, yang isinya adalah panduan dan inspirasi dalam bentuk, desain, warna, hingga ilustrasi yang sesuai dengan selera pasar yang akan datang ini diharapkan dapat menjadi rujukan atau referensi bagi pelaku industri, desainer, maupun akademisi di bidang desain fesyen.

 Fashion Trend

Buku Fashion Trend 2021/2022 ini sendiri diketahui sudah menjadi perilisan edisi ketiga dan merupakan bagian dari Trend Forecasting, yang sudah empat tahun belakangan ini diluncurkan rutin hampir setiap tahunnya.

Bertemakan New Beginning, buku Fashion Trend 2021/2022 merupakan hasil riset trend fashion yang disusun oleh tim Indonesia Trend Forecast.

Tim Indonesia Trend Forecasting sendiri adalah tim riset dan pengembangan kolaboratif yang terdiri dari para ahli, praktisi, dan akademisi berpengalaman di industri kreatif Indonesia. Didukung oleh berbagai asosiasi profesi dari berbagai bidang, mulai dari fesyen (Indonesia Fashion Chamber), desain interior (Himpunan Desainer Interior Indonesia), desain produk (Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia), tekstil (Komunitas Tekstil ITB), serta grafis (Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia).

Untuk diketahui, riset tren fesyen ini tak hanya melibatkan desainer mode tapi juga melibatkan peneliti dari berbagai bidang seperti ekonomi, demografi, antropologi, lingkungan hidup, teknologi informatika, dan akademisi. R. Kurleni Ukar selaku Deputi Kebijakan Strategis Kemenparekraf RI menyebutkan riset data dilakukan dengan metode langsung dari lapangan.

“Pengumpulan data dilakukan baik langsung dari lapangan, menelaah data dari berbagai sumber, lalu diolah menjadi suatu pendekatan strategis yang dapat diimplementasikan”. Untuk menghasilkan arahan kreatif yang tepat, serangkaian diskusi kelompok terpumpun (DKT) dengan para ahli juga dilakukan secara intensif,” kata R. Kurleni Ukar dalam gelaran launching e-book fashion trend yang digelar daring baru-baru ini.

Sementara itu, terkait dengan situasi pandemi Covid-19 saat ini, Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengharapkan buku ini bisa jadi rujukan yang tepat untuk pelaku industri kreatif terutama para pelaku industri mode di Indonesia.

“Kami mencoba memberikan rujukan beserta semangat dan optimisme kepada seluruh pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif salah satunya melalui peluncuran trend forecast ini. Ke depannya akan ada wadah bagi desainer untuk berinteraksi satu sama lain dan dengan pelaku kreatif lainnya,” kata Menteri Sandiaga.

Sebagai informasi, saat ini sektor industri fesyen jadi subsektor kedua tertinggi dengan kontribusi sebesar 18 persen pada 2019. Subsektor ini juga menyerap lebih dari 4,4 juta tenaga kerja pada 2019.

Sedangkan dari sisi ekspor, industri fesyen diketahui tak kalah bersaing dengan komoditas ready to wear yang paling mendominasi. Jawa Barat menjadi provinsi paling produktif dalam menyumbangkan ekspor fashion ini ke luar negeri. Hal ini secara langsung memperlihatkan, jika industri fesyen Indonesia sedang tumbuh dan punya potensi besar ke depan.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini