Dokter Boyke Sebut Sunat Kurangi Risiko Penularan PMS

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 09 April 2021 11:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 481 2391870 dokter-boyke-sebut-sunat-kurangi-risiko-penularan-pms-BOmcOywQuy.jpg Sunat (Foto: New Jersey Urology)

Kebanyakan pria Indonesia disunat saat sudah memasuki akil baligh. Sunat sendiri selain bagian dari ajaran agama, ternyata juga memiliki berbagai dampak kesehatan bagi pria.

Dokter Spesialis Kandungan sekaligus Seks Konsultan, dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS mengatakan, sejatinya terdapat banyak sekali dampak positif sunat. Khususnya sunat bagi orang dewasa.

 Dokter Boyke

"Sunat itu manfaatnya mengurangi risiko tertular penyakit menular seksual (PMS) untuk pasangannya," ujar Dokter Boyke belum lama ini.

Dokter Boyke menjelaskan, banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan. Dia menegaskan sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan.

"Seperti diketahui virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual (PMS). Virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker," ujar Dokter Boyke.

Selain itu, Dokter Boyke menerangkan, pada pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri, atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya.

Sebab dalam kondisi normal kepala alat kelamin pria yang tidak disunat tertutup kulup atau kulit. Butuh perawatan khusus seperti pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat.

Dia juga mengatakan, ada sejumlah pasangan perempuan yang khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya.

Sementara itu, Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI), Prof. Andi Asadul Islam menambahkan, terdapat berbagai metode sunat. Mulai dari konvensional, laser atau electric couter, dan klamp bisa menjadi prosedur pilihan ketika seseorang ingin disunat.

"Pada zaman dulu, memang sunat dolakukan dengan cara konvensional. Didahului anestesi, terus dipotong sedikit dari atas dulu bagian kanan, melingkar ke kanan, lalu melingkar ke kiri baru dijahit. Dengan pemotongan tersebut banyak risiko yang bisa dihadapi saat disunat, sekarang metode lebih modern," terang Profesor Andi.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini