Vaksin Pfizer Terbukti Tak Ampuh Lawan Varian Corona Afrika Selatan

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 12 April 2021 11:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 12 481 2393159 vaksin-pfizer-terbukti-tak-ampuh-lawan-varian-corona-afrika-selatan-Nj6VNrFMkf.jpg Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

VAKSIN Covid-19 memang sudah banyak beredar di seluruh dunia, salah satu yang dianggap ampuh adalah produksi Pfizer/BioNTech. Tapi, penelitian terbaru menyebut vaksin ini tidak ampuh melawan varian corona baru asal Afrika Selatan B.1.351.

Dilapor Reuters, dari studi penelitian yang digelar Universitas Tel Aviv dan penyedia layanan kesehatan terbesar Israel, Clalit, mendapati bahwa kemungkinan vaksin Pfizer ini tak memberikan proteksi untuk melawan varian virus B.1.351.

Dengan kata lain, strain virus Afrika Selatan ini bisa menghindari dari perlindungan yang diberikan oleh vaksin Pfizer sampai batas tertentu. Meskipun, studi ini disebukan prevalensinya di Israel sangat rendah dan belum ditinjau.

Hasil studi yang dirilis pada Sabtu akhir pekan lalu, digelar dengan membandingkan hampir sebanyak 400 orang yang positif terinfeksi Covid-10, 14 hari atau lebih setelah mereka menerima satu atau dua dosis vaksin dengan jumlah yang sama dari pasien yang tidak divaksinasi.

Kemudian, varian Afrika Selatan, B.1.351, ditemukan sekitar 1 persen dari semua kasus positif Covid-19 di semua orang yang diteliti.

Tetapi di antara pasien yang telah menerima dua dosis vaksin, tingkat prevalensi varian B.1.351 nya delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak divaksinasi 5,4 persen berbanding 0,7 persen.

Hal ini dikatakan para peneliti, menunjukkan vaksin Pfizer kurang efektif dalam melawan varian virus Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus corona asli dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang mencakup hampir semua kasus Covid-19 di Israel.

“Kami menemukan tingkat yang lebih tinggi dari varian Afrika Selatan di antara orang yang sudah divaksin dengan dosis kedua, dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi. Ini berarti varian Afrika Selatan bisa, sampai di batas tertentu, menembus perlindungan dari vaksin, ” kata Adi Stern dari Universitas Tel Aviv.

Namun, di sisi lain para peneliti memperingatkan bahwa studi penelitian ini hanya memiliki ukuran sampel kecil orang yang terinfeksi varian Afrika Selatan, mengingat karena kelangkaannya di Israel.

Tim peneliti juga menyebutkan, studi tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan keefektifan vaksin secara keseluruhan terhadap varian apapun, karena hanya melihat orang yang sudah dites positif Covid-19, bukan pada tingkat infeksi secara keseluruhan.

Sementara itu, pihak Pfizer sendiri diketahui menolak untuk memberikan komentar terkait hasil studi penelitian dari Israel tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini