Yuk Kenali Sederet Gejala Pembekuan Darah

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 14 April 2021 12:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 481 2394434 yuk-kenali-sederet-gejala-pembekuan-darah-L8bnO6o9ai.jpg Sakit kepala gejala pembekuan darah (Foto: Insider)

Secara awam, kebanyakan orang tidak terpikirkan pembekuan darah atau blood clot dalam kehidupan sehari-hari.

Pembekuan darah tiba-tiba melejit setelah ramainya laporan munculnya kasus pembekuan darah pada sebagian kecil orang, pasca-divaksin Covid-19 menggunakan vaksin dari Johnson & Johnson atau AstraZeneca. Alhasil, kini banyak orang bertanya-tanya apakah gejala dari pembekuan darah.

Vaksin Covid-19

Kondisi pembekuan darah, hadir dalam beberapa variasi. Masing-masing punya gejala dan pengobatannya sendiri. Faktor penyebabnya pun bermacam-macam, ada karena pengobatan, gaya hidup, ataupun kondisi kesehatan lainnya.

Penggumpalan darah diketahui bisa berasal dari vena atau arteri. Ada dua jenis pembekuan darah yang harus diperhatikan, dan masing-masing dapat menyebabkan komplikasi potensial.

Salah satu jenisnya disebut trombus, merupakan bekuan diam yang memblokir aliran darah di bagian tubuh tempat pembekuan itu terjadi.

Lalu ada embolus, gumpalan darah yang bisa lepas. Tipe ini disebut sangat berbahaya karena dapat menyebar ke bagian tubuh lain, contohnya jantung atau paru-paru dan menyebabkan kerusakan parah pada tubuh.

Mengutip Huffingtonpost, Rabu (14/4/2021) gejala penggumpalan darah berbeda-beda tergantung pada jenisnya. Ketika bekuan diam, seperti trombosis vena dalam (pembekuan di kaki, gejala yang biasanya mungkin dialami adalah timbul rasa hangat dan kemerahan di titik lokasi gumpalan (biasanya di tungkai kaki atau lengan), bengkak, nyeri di titik gumpalan, mati rasa, hingga perubahan kondisi mental.

Jika gumpalan telah menyebar, menyebabkan komplikasi seperti emboli paru (gumpalan yang telah berpindah ke paru-paru), maka gejalanya bisa termasuk mengalami sesak napas tiba-tiba, batuk (berdarah atau tanpa darah), kulit jadi pucat dan membiru, berkeringat berlebihan, gelisah, lemah, mual atau muntah.

Pembekuan atau darah yang menggumpal diketahui bisa memengaruhi lengan, kaki, jantung, paru-paru, ginjal, hingga otak. Tergantung di mana mereka terbentuk dan di mana mereka mengalir dalam aliran darah.

Contohnya seperti yang dialami oleh beberapa orang yang menerima vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson (&J) disebutkan mengalami komplikasi dari gumpalan yang berasal dari vena dekat otak, yang disebut trombosis sinus vena serebral (CVST). Hal ini terlihat dalam kombinasi dengan tingkat trombosit darah yang rendah.

Sakit kepala hebat, sakit perut, sakit pada kaki, dan sesak napas dalam jangka waktu tiga pekan usai divaksin dikatakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Administrasi Makanan dan Obat (FDA) Amerika sebagai deretan gejala yang terkait dengan kasus pembekuan darah tipe ini.

Ada beberapa catatan penting dari kasus pembekuan darah vaksin J&J ini yakni, terjadinya blood clots pasca disuntik vaksin adalah kasus yang sangat langka terjadi.

Hingga saat ini, diketahui ada enam kasus yang dilaporkan dari hampir 7 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan dan telah terjadi dalam waktu 13 hari setelah vaksinasi.

Secara harfiah, resiko terjadinya pembekuan darah seperti disebutkan pakar penyakit menular, Amesh Adalja karena infeksi Covid-19 masih jauh lebih tinggi dibandingkan karena divaksin.

“Ingat saja bahwa Covid-19 menyebabkan pembekuan darah dan Covid-19 menyebabkan pembekuan darah pada tingkat yang lebih tinggi daripada vaksin,” kata Amesh.

Para ahli menekankan bahwa vaksin sangat vital untuk mengendalikan situasi pandemi Covid-19 ini. Adanya jeda distrubusi vaksin, juga dimaksudnya untuk menginformasikan pada penyedia layanan kesehatan tentang cara mengenali, menangani dan melaporkan masalah tersebut. Jadi, disarankan jangan sampai hal ini jadi penghalang Anda untuk bisa disegera divaksin Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini