Viral Vaksin Nusantara, Ini Tahapan Uji Klinisnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 14 April 2021 21:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 481 2394783 viral-vaksin-nusantara-ini-tahapan-uji-klinisnya-JXQVLRYYhl.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Keputusan sejumlah anggota komisi IX DPR RI yang siap untuk divaksin menggunakan vaksin Nusantara menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat. Pasalnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku lembaga yang mengawasi keamanan vaksin belum memberi lampu hijau uji klinis tahap berikutnya terhadap vaksin Nusantara.

Dokter Relawan Covid-19 sekaligus Influencer Kesehatan, dr. Muhamad Fajri Adda’i mengatakan bahwa tahap-tahap dalam pengembangan obat atau vaksin terdiri dari banyak bagian. Dalam kesempatan tersebut ia pun menjelaskan secara singkat mengenai tahapan-tahapan tersebut.

Vaksinasi Covid-19

“Yang pertama adalah preklinik. Biasanya dilakukan di hewan untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan dosis-dosisnya, kemudian apakah ada efek sampingnya terhadap hewan, serta manfaatnya,” terang dr. Fajri saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (14/4/2021).

Setelah tes kepada hewan lolos, baru vaksin atau obat diujikan kepada manusia dalam populasi yang terbatas. Kondisi ini biasanya disebut dengan uji klinis fase pertama. Selain itu, uji klinis pertama ini sampelnya hanya 100-an atau di bawah 1.000.

Baca Juga : Ketua Satgas IDI Pertanyakan Uji Klinis Vaksin Nusantara Tanpa Persetujuan BPOM

Fungsi utama dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah efek samping toxic bermasalah dari setiap organ tubuh. Selain itu kemanjuran vaksin juga dibuktikan dalam uji fase pertama ini.

“Setelah itu penelitian masuk ke tahap kedua dalam skala yang lebih besar sekira 700-800. Baru nanti masuk ke tahap ketiga yang penelitiannya mencakup suatu yang lebih luas,” sambungnya.

Tujuannya uji klinis fase kedua ini sama dengan yang pertama, yakni untuk memastikan keamanan. Hanya saja populasi yang berbeda serta gen dan karakter individunya juga berbeda. Nanti setelah uji tahap ketiga lulus, maka bakal diproduksi massal.

“Vaksin Nusantara ini kepentok, dari fase pertama menuju kedua, BPOM tidak mengizinkannya. Beberapa alasannya prekliniknya belum jelas, datanya belum ada publikasinya, dan lain-lain,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini