Mengenal Kartini, Perempuan yang Gigih Perjuangkan Emansipasi Wanita

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 21 April 2021 10:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 612 2398227 mengenal-kartini-perempuan-yang-gigih-perjuangkan-emansipasi-wanita-rMoBdaWnPT.jpg Kartini (Foto: Inst)

Hari Kartini diperingati setiap tahun pada tanggal 21 April. Peringatan itu disesuaikan dengan kelahiran sang pahlawan emansipasi nasional, Raden Ajeng Kartini.

Raden Adjeng Kartini atau lebih sering dikenal dengan nama R.A. Kartini merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi kala itu.

 Kartini

Hal itu bermula ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu. Pasalnya beberapa perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan tinggi, harus melaksanakan pingitan, serta tidak diberikan ruang gerak yang setara dengan laki-laki.

R.A. Kartini merupakan anak kelima dari 11 bersaudara dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A Ngasirah. Dia lahir pada 21 April di Jepara, Jawa Tengah. Keluarga Kartini adalah merupakan sosok bangsawan di Jepara. Sang Ayah dikenal sebagai Bupati di Jepara.

Kartini muda adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi ilmu pendidikan dan pengetahuan. Dia sangat gemar membaca dan menulis. Sayangnya, cita-cita Kartini untuk sekolah terenggut lantaran sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat meminta Kartini tidak perlu menimba ilmu tinggi, hal itu yang membuat Kartini hanya sampai sekolah dasar dasar saja pada usia 12 tahun.

Ia mengenyam pendidikan di Europese Legere School, di sekolah inilah yang membuat Kartini mahir berbahasa Belanda. Kartini berhenti bersekolah lantaran harus dipingit oleh sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Namun, Kartini tetap memiliki tekat bulat dan tetap belajar walaupun telah berhenti dari sekolahnya. Sebab pada masa itu Kartini sering berkirim surat dengan teman-temannya di luar negeri untuk saling bertukar informasi.

Kartini juga rutin membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa, dan sejak saat itulah timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi.

Pasalnya pada saat itu Kartini melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Oleh sebab itu, dia memiliki ide untuk memajukan perempuan-perempuan Indonesia dari segala keterbelakangan. Di masa itu, Kartini sangat sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri mengenai gagasan itu.

Kemudian, pada 12 November 1903, Kartini memulai kehidupan baru, ia dipinang oleh upati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.

Oleh suaminya, Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks Kantor Kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Setahun berselang dari pernikahannya, Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904.

Empat hari pasca-Kartini melahirkan putra tercintanya, dia pun menghembuskan napas terakhirnya pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Dia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Saat meninggal, Kartini menghembuskan napas terakhirnya tepat di pangkuan suami tercinta, hal itu karena merujuk kesaksian dari para abdi dalem yang ada pada peristiwa itu.

Menurut informasi dari berbagai sumber, Kartini meninggal dunia diduga karena preeklamsia yakni gangguan kehamilan yang ditandai oleh tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi dalam urine.

Setelah kematian Kartini, seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr.J.H Abendanon mulai membukukan surat menyurat kartini dengan teman-temannya di Eropa dengan judul "Door Duisternis Tot Licht" yang artinya "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Kartini adalah seorang kutu buku, penulis dan istri yang setia. Dia peduli terhadap nasib miris terhadap kaumnya. Berkat kegigihannya memperjuangkan emansipasi wanita, keluarga Van Deventer yang seorang politik etis pun tertarik untuk dengan mendirikan Yayasan Kartini yang selanjutnya mendirikan sekolah wanita pada tahun 1912 di Semarang dan kemudian diteruskan ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Karena itu, pantas jika Raden Ajeng Kartini disebut sosok pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita. Dia juga dinilai sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Dengan perjuangan Kartini tersebut saat ini tidak ada lagi diskriminasi terhadap gender perempuan.

Berkat perjuangannya tersebut, akhirnya pada 2 Mei 1964, pemerintah menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan. Dan setiap 21 April tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini