Putus Sekolah Akibat Dipingit, Kartini Terus Belajar Secara Otodidak

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 21 April 2021 10:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 612 2398231 putus-sekolah-akibat-dipingit-kartini-terus-belajar-secara-otodidak-2dDTs1YutQ.jpg Kartini (Foto: Inst er_apprl)

Raden Ajeng Kartini merupakan anak kelima dari 11 bersaudara dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A Ngasirah. Dia lahir pada 21 April di Jepara, Jawa Tengah. Keluarga Kartini adalah merupakan sosok bangsawan di Jepara. Sang Ayah dikenal sebagai Bupati di Jepara.

Sewaktu kecil, Kartini merupakan sosok yang cerdas dan berkeingintahuan tinggi. Ia juga dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita. Karena pada masa itu, perempuan tidak diberikan ruang gerak yang sama dengan laki-laki.

 Kartini

Meski terbilang cerdas, rupanya Kartini harus berhenti bersekolah di usia 12 tahun. Semula, ia mengenyam pendidikan di Europese Legere School, di sekolah inilah yang membuat Kartini mahir berbahasa Belanda.

Akan tetapi, cita-cita Kartini untuk sekolah terenggut lantaran sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat meminta Kartini tidak perlu menimba ilmu tinggi, hal itu yang membuat Kartini hanya sampai sekolah dasar dasar saja pada usia 12 tahun.

Kartini pun dipingit oleh sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Karena ketika seorang perempuan mendapatkan menstruasi, ia harus dikurung di kamarnya hingga ada pria yang datang melamarnya.

Meski menjalani pingitan, Kartini tetap memiliki tekat bulat dan tetap belajar secara otodidak. Salah satu caranya dengan berkirim surat dengan teman-temannya di luar negeri untuk saling bertukar informasi dan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Eropa.

Kartini juga rutin membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa, dan sejak saat itulah timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi.

Kartini adalah seorang kutu buku, penulis dan istri yang setia. Dia peduli terhadap nasib miris terhadap kaumnya. Berkat kegigihannya memperjuangkan emansipasi wanita, keluarga Van Deventer yang seorang politik etis pun tertarik untuk dengan mendirikan Yayasan Kartini yang selanjutnya mendirikan sekolah wanita pada tahun 1912 di Semarang dan kemudian diteruskan ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Karena itu, Raden Ajeng Kartini adalah sosok pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita. Dia juga dinilai sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Dengan perjuangan Kartini tersebut saat ini tidak ada lagi pendiskriminasian kepada gender perempuan.

Berkat perjuangannya tersebut, akhirnya pada 2 Mei 1964, pemerintah menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan. Dan setiap 21 April tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini