Kisah Pilu RA Kartini, Meninggal Usai Melahirkan Diduga Akibat Preeklamsia

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 21 April 2021 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 612 2398249 kisah-pilu-ra-kartini-meninggal-usai-melahirkan-diduga-akibat-preeklamsia-8P965bU2Li.jpg Ilustrasi Hari Kartini. (Foto: Okezone)

BANYAK cerita mengenai Raden Ajeng (RA) Kartini. Salah satu yang tersohor adalah perjuangan RA Kartini sebagai perempuan untuk dapat menuntut ilmu yang akhirnya menjadi semangat kaum Hawa bisa menggapai cita-cita.

Di balik kisah hidupnya yang inspiratif dan penuh perjuangan, RA Kartini pun memiliki masa kelam. Hari kepergiannya menjadi pilu bagi banyak orang, terkhusus Kartini meninggal usai melahirkan.

Baca juga: Mengenal Kartini, Perempuan yang Gigih Perjuangkan Emansipasi Wanita 

Beberapa sumber menyatakan Kartini meninggal usai melahirkan anak tunggalnya Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, diduga akibat preeklamsia. Penyakit ini dimulai biasanya pasca-kehamilan memasuki usia 20 minggu dan dapat menyerang ibu hamil dengan tekanan darah normal sekalipun.

Preeklamsia harus diwaspadai, karena penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bukan hanya untuk si ibu tapi juga bayi yang dikandungnya. Kematian adalah risiko paling serius dari penyakit ini dan itu yang diduga dialami Kartini.

Penyakit ini bisa dikenali meski tanpa gejala, salah satunya adalah dengan tekanan darah tinggi saat kehamilan dan kadar protein pada urine ibu hamil. Dalam beberapa kasus, preeklamsia juga dikenali dari ukuran kaki yang membesar disertai retensi air.

RA Kartini. (Foto: Istimewa)

Baca juga: Putus Sekolah Akibat Dipingit, Kartini Terus Belajar Secara Otodidak 

Penyebab Preeklamsia

Dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (21/4/2021), penyebab utama preeklamsia sampai saat ini belum bisa diketahui secara pasti. Namun, beberapa ahli percaya bahwa penyakit ini diawali dengan kelainan plasenta. Selain itu, preeklamsia juga ditandai dari penyempitan pembuluh darah serta reaksi yang cenderung berbeda terhadap rangsangan hormon. Kondisi ini mengurangi jumlah darah yang dialirkan ke janin.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko preeklamsia, mulai dari kekurangan nutrisi, pernah mengalami preeklamsia sebelumnya, mengandung bayi kembar, hingga pasien diabetes, lupus, hipertensi, atau penyakit ginjal.

Cara Mencegah dan Mengobati Preeklamsia

Ibu hamil yang didiagnosis preeklamsia akan disarankan menjalani rawat inap di rumah sakit karena penanganan yang tepat akan mengurangi risiko keparahan kondisi kesehatan. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan nonstress test (NST) secara rutin untuk memastikan kesehatan janin.

Soal pengobatan, dokter akan meresepkan obat yang diharapkan dapat menurunkan tekanan darah, obat kortikosteroid yang dapat meningkatkan kinerja liver dan trombosit, serta obat antikejang.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, Tiara Andini: Perempuan Harus Berani, Percaya Diri 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini