Hari Kartini, Gaji Pekerja Perempuan di Indonesia Masih Tak Sesuai

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Rabu 21 April 2021 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 612 2398546 hari-kartini-gaji-pekerja-perempuan-di-indonesia-masih-tak-sesuai-HOTqYG09fo.jpg Ilustrasi. (Foto: Stylecraze)

HARI Kartini bisa menjadi momentum buat banyak orang untuk menghindari kesetaraan gender. Hal ini bisa terjadi di lingkup rumah tangga atau dunia kerja.

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kesetaraan gender yang belum memadai, dengan posisi peringkat ke-85 dari 153 negara. Ketidaksetaraan dapat terjadi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti dalam dunia pekerjaan dan rumah tangga.

Dalam ranah pekerjaan, kesenjangan gender masih terhitung tinggi. Partisipasi dan peran perempuan dalam ekonomi dan ketenagakerjaan masih rendah, dikarenakan diskriminasi terhadap perempuan yang terjadi secara sistematis.

Baca Juga: Pemotretan Pertama Nagita Slavina saat Hamil, Netizen: Huwow Menyala Bosmil

Bahkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melaporkan, beberapa tindakan pelanggaran hak wanita di tempat kerja. Seperti pemberian gaji yang lebih rendah daripada pria, PHK pada wanita hamil, tidak diberikannya cuti haid, kurangnya fasilitas bagi para pekerja wanita untuk memberikan ASI, dan sebagainya.

 karier

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Puspayoga menyatakan, realita di lapangan menunjukkan saat ini wanita masih tertinggal dibandingkan pria, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga keterwakilan dalam politik.

Menurutnya, komplikasi perwujudan kesetaraan gender di Indonesia sejalan dengan timpangnya akses partisipasi kontrol serta kesempatan memperoleh manfaat antara wanita dan pria.

"Salah satunya dipicu oleh nilai patriarki dan konstruksi sosial di masyarakat," tuturnya lewat keterangannya.

Kondisi ini, ujar Menteri Bintang, memberikan gambaran kurang baik bagi para perempuan. Selain dalam rumah tangga, para perempuan harus bersiap menghadapi diskriminasi dalam dunia pekerjaan nantinya.

"Saat seorang wanita ingin mendedikasikan dirinya bagi masa depan yang penuh kemungkinan, berbagai ancaman ketidaksetaraan gender justru masih menjadi tantangan bagi mereka untuk mewujudkan mimpinya," imbuhnya.

Sementara itu, dikatakan Karin Zulkarnaen dari Allianz Life Indonesia, ketidaksetaraan gender disebabkan oleh stereotip dan bias. Hal ini diperkuat dengan kehadiran media sosial, di mana perbedaan pendapat, penampilan, kemampuan atau apapun dapat menimbulkan konflik.

"Kita harus mengubahnya. Ketika orang lain gagal melihat keindahan dalam perbedaan, kita harus semakin menjunjung tinggi nilai tersebut, dengan selalu melihat perbedaan dalam sudut pandang yang positif,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini