Asal Usul Kolak, Takjil Populer di Bulan Puasa

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 23 April 2021 16:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 23 298 2399746 asal-usul-kolak-takjil-populer-di-bulan-puasa-RVoKEJa2gN.jpg Kolak (Foto: Inst)

Kolak merupakan salah satu menu yang paling sering dijumpai saat Ramadan. Banyak masyarakat yang berburu kolak saat ngabuburit. Walaupun sebagian dari mereka lebih memilih untuk membuat kolak sendiri di rumah.

Rasa manis yang dihasilkan kolak juga sangat identik. Wajar saja jika banyak orang yang menyukainya. Selain itu, kolak juga menyegarkan. Jadi cocok banget disantap saat berbuka puasa. Oh ya, bahkan ada sebagian orang yang menikmati kolak dengan es batu biar lebih segar.

 kolak

Dari segi penyajiannya, kolak pun dibagi menjadi beberapa jenis. Seperti kolak pisang, kolak ubi, kolak labu, kolak biji salak, dan masih banyak lagi. Toping-toping tersebut pun dipadukan dengan santan dan gula merah.

Bicara kolak, rupanya tak hanya sebatas hubungan antar takjil dengan Ramadan lho. Di balik rasa manisnya, ternyata tersimpan makna dan sejarah yang cukup menarik untuk dibahas.

Menurut buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia karya Fadly Rahman, kolak kemungkinan berasal dari kata "khalik" yang artinya Sang Pencipta. Ada juga anggapan kalau kolak ini dijadikan media dakwah oleh para ulama terdahulu.

Konon katanya, dulu saat masyarakat Jawa belum mengenal Islam dengan baik, para ulama memilih metode yang relatif mudah dan sederhana, yakni dengan menggunakan medium makanan.

Filosofi kolak diperoleh dari setiap elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari kata kolak sendiri yang merujuk pada “Khalik”, berarti pencipta yang menunjuk pada Allah SWT.

Isian kolak biasanya menggunakan pisang kepok. Kepok dikaitkan dengan kata “kapok”, dalam Bahasa Jawa berarti jera. Makanan ini bisa jadi pengingat manusia untuk bertobat kepada Allah.

Ada juga telo pendem, yang sering ditemukan sebagai isian kolak. Kata “pendem” merujuk pada makna bahwa manusia harus mengubur kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, dan melanjutkan hidup dengan jalan penuh ridho Allah.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini