Rendahnya Minat Imunisasi Anak, Dokter: Sasar Kelompok yang Masih Ragu

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 23 April 2021 17:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 23 481 2399779 rendahnya-minat-imunisasi-anak-dokter-sasar-kelompok-yang-masih-ragu-oTz4XojROK.jpg Imunisasi (Foto: Inst Ardisantoso )

Meski bersifat sangat penting, faktanya tingkat kelengkapan imunisasi pada anak di Indonesia masih belum mencapai target.

Dari data rutin sampai 6 April 2021, tentang cakupan semua antigen imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan secara nasional tahun 2020 masih di bawah target minimal 95 persen.

Tidak dipungkiri, di Indonesia masih banyak orang tua terutama ibu yang tak mau membawa anaknya untuk diimunisasi. Mulai dari faktor takut anak menjadi sakit, ataupun alasan karena menganggap kandungan yang ada pada vaksin itu tidak jelas.

 imunisasi

Situasi ini makin bertambah berat, terutama di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang saat terjadinya peningkatan jumlah kelahiran dan anjuran dari WHO yang mengharuskan pemerintah negara harus mengejar target imunisasi.

Menurut pandangan Prof Sri Rezeki S Hadinegoro Sp.A(K), spesialis kesehatan anak sekaligus Ketua ITAGI Kementerian Kesehatan RI, untuk menggiatkan imunisasi pada anak ini, sebaiknya saat ini fokus menyasar untuk memberikan informasi valid seluas-luasnya pada kelompok orang tua yang ragu-ragu.

“Dari data survei, bahwa memang tidak semua orang bisa menerima vaksinasi dengan baik. Ini kejadian di semua negara, enggak hanya Indonesia. Ada yang tipe nerima langsung, ada yang ragu, ada yang nolak. Sebetulnya yang disasar itu adalah baru adalah yang ragu, yang menolak biarkan saja,” Prof Sri Rezeki, dalam gelaran konferensi pers daring, Jumat (23/4/2021).

Profesor Sri menekankan, kelompok orang tua yang ragu-ragu harus menjadi sasaran target informasi karena kelompok inilah yang membutuhkan informasi yang benar agar tidak termakan oleh hoaks. Tidak hanya dari pemerintah, tapi juga semua pihak contohnya bisa dari tenaga kesehatan.

“Yang ragu-ragu ini yang perlu informasi, bukan dari pemerintah saja tapi dari kita semua. Contohnya nakes, ngomong dua kalimat saja gaungnya sudah ke mana-mana. Kelompok ragu-ragu ini yang harus kita kasih kejelasan soal imunisasi. Ibu-ibu di Indonesia itu kadang enggak bisa ambil keputusan sendiri. Tergantung suami, mertua, bahkan tetangga,” tambahnya.

Sebagai masyarakat, Profesor Sri Rezeki berkata kita juga bisa berperan aktif menyebarkan informasi seputar imunisasi secara lugas.

“Kita kasih tahu kalau anak sakit setelah vaksin, ya tinggal balik ke lokasi vaksin dan diperiksa apakah sakitnya terkait ke imunisasi atau ada penyakit berbeda. Kalau ada yang ngomong, anak saya enggak imunisasi tapi enggak sakit kasih tahu ibu itu harus berterima kasih ke anak-anak lain yang diimunisasi karena itu herd immunity, jadi terlindungi,” tegas Profesor Sri Rezeki.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini