Hubert Henry Bassist Boomerang Meninggal, Kenali Pendarahan Otak dan Gejalanya

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Sabtu 24 April 2021 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 24 481 2400107 hubert-henry-basis-boomerang-meninggal-kenali-pendarahan-otak-dan-gejalanya-zxdErTUUE4.jpg Hubert Henry meninggal dunia (Foto : Instagram/@boomerang_official)

Dunia musik Tanah Air berduka. Hubert Henry Limahelu, bassist grup band Boomerang meninggal dunia hari ini, Sabtu (24/4/202).

Kabar ini dikonfirmasi melalui akun Instagram resmi Boomerang. Terpampang foto sang musisi dengan nuansa warna hitam putih.

"Rest In Peace. Selamat Jalan Hubert Henry Limahelu. Semua #Kisah dan Karyamu Akan Selalu menjadi Warna Untuk Kami Semua," tulis akun tersebut.

Hubert Henry Limahelu

Hubert Henry meninggal di usia 53 tahun karena mengalami pecah pembuluh darah saraf otak atau pendarahan otak. Pendarahan otak adalah jenis stroke yang disebabkan oleh pembuluh darah arteri yang pecah di otak. Akibatnya, jaringan otot dipenuhi darah yang dapat membunuh sel-sel di otak, dikutip Thesun.

Baca Juga : Hubert Henry Limahelu, Bassist Boomerang Meninggal Dunia

Ketika darah mengiritasi jaringan otak, maka akan terjadi pembengkakan dan darah yang terkumpul akan semakin menggumpal. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan pada jaringan otak di dekatnya, yang mengurangi aliran darah penting dan membunuh sel otak.

Gejala pendarahan otak meliputi sakit kepala tiba-tiba, melemahnya fungsi tangan atau kaki, kesemutan atau mati rasa, dan kesulitan berbicara, menelan, menulis, serta berbicara. Namun, pendarahan otak masih dapat diobati dengan tindakan yang tepat.

Dokter perlu menentukan bagian mana dari otak yang terkena dampak pendarahan sesuai dengan gejala yang dialami pasien. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan CT scan yang dapat mengungkap akumulasi penggumpalan darah atau dengan mesin pemindai beresonansi (MRI).

Pemeriksaan syaraf (neurologi) atau mata juga penting dilakukan untuk mengungkap adanya pembengkakan optik atau tidak. Tindakan medis yang diambil dokter sepenuhnya bergantung pada lokasi, penyebab, dan seberapa luas area pendarahan di otak. Dokter biasanya akan memberi antikonvulsan untuk mengurangi kejang-kejang.

Efek fatal dari pendarahan otak adalah kematian. Setengah dari pasien yang menderita pendarahan otak meninggal dunia di mana fase kritis adalah dua hari setelah mengalami penyakit tersebut. Sementara itu, mereka yang berhasil bertahan hidup akan mengalami pemulihan yang cukup lama. Hanya 12% dari pasien yang berhasil bertahan dapat pulih sempurna dalam waktu 30 hari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini