Anak Bunda Susah Gaul, Ini Tips Cegah Anak Jadi Anti-Sosial

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Rabu 28 April 2021 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 27 612 2401738 anak-bunda-susah-gaul-ini-tips-cegah-anak-jadi-anti-sosial-5M05tmLadw.jpg Anak pemalu (Foto: Mundo)

Di tengah pandemi Covid-19 ini menimbulkan kekhawatiran lain selain paparan virus yang berbahaya. Ya, masalah itu adalah anak menjadi anti-sosial karena terlalu nyaman di rumah saja dan tidak nyaman saat bertemu dengan orang banyak.

Namun, apakah pandemi benar-benar memberi efek tersebut, membuat anak jadi anti-sosial?

 anak

Psikolog Anak Karina Istifarisny menjelaskan, risiko menarik diri dari lingkungan sosial bisa saja terjadi jika orangtua tidak ada untuk anaknya dalam setiap menjalani keseharian. Tidak hanya itu, risiko menjadi lebih tinggi bila si anak tidak dibimbing dalam pengembangan kemampuan sosialnya.

"Keadaan lockdown mungkin membuat si anak menarik diri, tidak ingin berinteraksi dengan orang lain, kurang mampu menempatkan diri dalam interaksi dengan orang lain. Jika ini yang dimaksud dengan antisosial pada anak, itu bisa saja terjadi," terangnya belum lama ini.

Karina menekankan, ada makna anti-sosial lain yang harus dipahami masyarakat yaitu 'antisocial personality disorder' yang mana ini belum tentu di alami anak. "Karena gangguan ini terlihat saat dewasa, dikenali dengan tidak peka dan kasar dalam berinteraksi dengan orang lain dan beberapa tanda spesifik lain," sambungnya.

Terlepas dari itu, Karina menegaskan bahwa peran orangtua di sini sangat penting. Mereka jangan sampai mengabaikan anak saat dia hanya di rumah saja. "Kehadiran orangtua itu penting untuk si anak. Ini harus dilakukan meski tanpa adanya pandemi," tegas dia.

Ingat, seorang belajar tentang dasar-dasar sosialisasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Dari keluarga, kata Karina, si anak belajar bagaimana menempatkan diri atau bagaimana menghadapi kekalahan.

Nah, untuk mencegah anak jadi antisosial, Karina punya tips yang bisa dilakukan orangtua saat pandemi. Upaya ini tentu diharapkan mampu mengembangkan kemampuan bersosialisasi si anak meski dia di rumah saja.

1. Orangtua lebih 'cerewet' ke anak

Cerewet di sini maknanya adalah orangtua lebih sering berinteraksi dengan bertanya kepada anak yang reflektif.

"Misalnya, jika anak usia SD, setelah belajar, orangtua bisa ngobrol santai dengan bertanya, 'menurutmu materi sekolah hari ini bagaimana?'," katanya.

2. Memperbanyak kegiatan bersama di rumah

Aktivitas ini pun perlu dilakukan orangtua ke anak, salah satu tujuannya untuk memperkuat hubungan. Selain itu, anak pun merasa tidak diabaikan orangtua karena lebih peduli pada pekerjaannya.

"Misalnya ya, bermain board game-non gadget, seperti ludo, ular tangga, catur, atau uno stacko, yang di dalamnya ada aturan-aturan tertentu dalam permainan kelompok. Di sini anak akan tetap bisa mempelajari bagaimana caranya menghadapi kekalahan, bersikap ketika menang, dan lain-lain," tutur Karina.

3. Undang teman si anak jika memungkinkan

Ya, cara lain yang bisa dilakukan adalah mengundang beberapa orang teman untuk bermain bersama dengan anak Anda. "Nah, khusus untuk tips yang satu ini, tetap harus dipenuhi protokol kesehatan dalam interaksi. Permainan juga usahakan yang non-gadget, ya," terang dia.

4. Bermain online tapi dengan pengawasan

Untuk yang satu ini, sambung Karin, sebaiknya hanya dilakukan jika permainan non-gadget sangat sulit dilakukan. Menjadi catatan, orangtua perlu sangat bijak memilih jenis permainan dan memberikan batasan tentang durasi waktu bermain.

"Hal ini tentunya berkaitan dengan dampak negatif jika terlalu banyak bermain game online. Selain itu interaksi saat online juga perlu diperhatikan. Jika dirasa perlu, orangtua bisa menghindarkan anak dari interaksi dan jenis permainan yang memberikan dampak kurang positif," kata Karina.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini