5 Klaster Covid-19 Baru yang Ditemukan Kemenkes saat Ramadhan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 01 Mei 2021 11:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 481 2403895 5-klaster-covid-19-baru-yang-ditemukan-kemenkes-saat-ramadhan-bFCJYSL6Vq.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: The Scientist)

Belum lama ini ramai klaster Covid-19 perkantoran. Padahal, menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada 5 klaster baru yang mesti diwaspadai masyarakat.

"Selain klaster perkantoran yang belum lama ini ramai, kami menemukan adanya klaster Covid-19 pada acara buka puasa bersama, tarawih, mudik, dan takziah," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, Jumat (30/4/2021).

Dia mengatakan, temuan kluster baru ini mengkhawatirkan karena memungkinkan terjadinya 'super spreader'. "Ini karena peningkatan kasus Covid-19 hanya dalam waktu singkat dikarenakan terjadinya interaksi sekaligus tidak dijalankannya protokol kesehatan dengan benar," ujarnya.

 klaster buka bersama

Soal klaster tarawih, Siti Nadia menjelaskan bahwa kasus tersebut terjadi di Banyumas. Terdapat 51 pasien Covid-19 yang kesemuanya itu berasal dari jamaah dua masjid yang melangsungkan salat tarawih bersama.

"Pada klaster tarawih, itu ditemukan di Banyumas bahwa ada 51 orang terpapar Covid-19 setelah pelaksanaan salat tarawih. 51 orang ini salat tarawih di 2 masjid yang berbeda dan terpapar setelah satu jamaah yang ternyata positif Covid-19 tetap pergi ke masjid," papar Siti Nadia.

Jadi, satu orang yang sedang sakit itu tetap pergi ke masjid padahal sudah jelas dalam aturannya, mereka yang sakit tidak boleh bertemu dengan orang lain apalagi berkerumun.

Saat Ramadhan ini pun muncul klaster buka bersama atau bukber. Aktivitas ini sejatinya sangat rentan terpapar Covid-19 karena Anda akan berkerumun dengan orang lain, makan bersama yang otomatis tidak menggunakan masker dengan jarak yang kadang tidak diperhatikan.

"Perhatikan protokol kesehatan. Pada prinsipnya, makan bersama menjadi faktor penyebaran virus Covid-19 dan ini tentunya yang tidak kami inginkan," sambungnya.

Terkait dengan klaster mudik, kasus ditemukan di Pati sedangkan klaster takziah dilaporkan terjadi di Semarang. "Kami tak pernah bosan mengingatkan masyarakat untuk patuhi prokes sebagai upaya pencegahan. Batasi mobilitas jika itu tidak terlalu mendesak dan pastikan tetap disiplin menjalankan prokes," tambah Siti Nadia.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini