Sejarawan: Pesugihan Babi Ngepet Berkembang Sejalan Masuknya Kapitalisme yang Dibawa VOC

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 01 Mei 2021 20:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 612 2403847 sejarawan-pesugihan-babi-ngepet-berkembang-sejalan-masuknya-kapitalisme-yang-dibawa-voc-qUFc7w4YVM.jpg Ilustrasi babi ngepet (Foto: Tripadvisor)

Babi ngepet merupakan salah satu bagian dari praktik pesugihan yang ada di Indonesia. Kepercayaan ini meluas di masyarakat dimulai sejak 1800-an.

Menurut Sejarawan Asep Kambali, babi ngepet muncul di masyarakat tak terlepas dari tradisi yang kental di Indonesia, khususnya di Jawa. Terlebih saat agama belum masuk. "Praktik pesugihan babi ngepet sudah ada sejak masyarakat masih menganut paham animisme dan dinamisme," katanya belum lama ini.

 babi ngepet

Pesugihan babi ngepet pun berkembang sejalan dengan masuknya paham liberalisme dan kapitalisme yang dibawa oleh kelompok VOC. Jadi, awal mulanya masyarakat Indonesia damai dan rukun, lalu paham tersebut masuk, dan membuat masyarakat kesusahan dan ingin mendapat kekayaan secara instan.

"Kedatangan VOC menandai paham ini ada di Indonesia. Di saat itu, banyak priyai yang sengsara. Penduduk Indonesia hanya bisa hidup enak kalau mereka bisa dekat dengan penjajah. Karena itu, banyak warga yang terasingkan dan terbelakang baik secara pemikiran, pendidikan, hingga ekonomi," ujarya.

Di era itu lah diketahui banyak yang menerapkan pesugihan babi ngepet. Kalau bicara soal peercaya hal tak masuk akal, ya, babi ngepet ini masuk di dalamnya meski praktik-praktik klenik sudah banyak dilakukan sebelumnya dengan misalnya ziarah ke makam keramat ataupun praktik lain yang melibatkan unsur mistis di dalamnya.

"Praktik pesugihan biasanya melibatkan gunung, sawah, laut dan goa. Keempat unsur tersebut memiliki nilai yang dipercaya. Termasuk binatang-binatang dan di situlah babi ngepet ada," katanya.

Pesugihan pun banyak terjadi di pergantian musim. Ya, dari musim kemarau ke musim hujan, musim panen ke musim tanam, pun sebaliknya.

"Sederhananya, dulu ondel-ondel diarak warga di Batavia dengan maksud agar hasil panen sukses. Sebab, ondel-ondel dipercaya sebagai perwujudan sosok penolak bala," papar Asep.

Kembali ke pembahasan babi ngepet, menurut Asep, masyarakat Indonesia yang didominasi Muslim, babi yang dinilai haram dikonotasikan jadi sesuatu yang buruk. Makanya, ketika ada babi di lingkungan masyarakat Islam diasosiasikan sesuatu yang negatif.

"Peran agama juga memengaruhi suatu kepercayaan di masyarakat. Isu kedatangan babi ke suatu kampung pun akhirnya dianggap janggal. Beda dengan babi pink, pasti pemaknaannya lain," terangnya

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini