Tertinggi Ke-4 di Dunia, Sulitnya Hilangkan Stunting di Indonesia

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 04 Mei 2021 16:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 04 612 2405490 tertinggi-ke-4-di-dunia-sulitnya-hilangkan-stunting-di-indonesia-5kRPQ19OsG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat angka stunting atau gagal tumbuh pada anak, menduduki peringkat keempat di seluruh dunia. Meskipun, pada beberapa tahun terakhir ini angka tersebut sudah mengalami penurunan tajam.

Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKBN, dr Zamhir Setiawan, M.Epid, menjelaskan, jumlah kasus stunting di Indonesia pada 2019 mencapai 27,6%. Angka ini berhasil ditekan dari 37,8% di 2013.

Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu kurang dari 20%. Bahkan, hingga akhir tahun status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara dengan kasus balita stunting tertinggi.

Kondisi stunting atau gagal tumbuh pada anak sangat terkait dengan gizi penduduk yang buruk dalam periode cukup panjang. Tanpa penanganan serius, akan semakin banyak penduduk dewasa dan menua dengan perkembangan kemampuan kognitif yang lambat, mudah sakit, dan kurang produktif.

Stunting

Masa 1.000 hari pertama atau sekitar 3 tahun kehidupan sejak masih dalam kandungan merupakan masa penting perkembangan ketahanan gizi. Lebih dari 1.000 hari, maka dampak buruk kekurangan gizi akan sulit diobati. Kekurangan gizi pada ibu hamil pun menjadi faktor terjadinya stunting.

"Nutrisi memang mengambil peran penting yang perlu menjadi perhatian lebih bagi calon orangtua baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui," tambah Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritionals.

Penyebab tingginya kasus stunting di Indonesia, bukan hanya kurangnya gizi janin dalam kandungan ibu, tetapi juga sebagian kelahiran bayi di Indonesia sudah dalam kondisi kurang gizi, lalu dibesarkan juga dengan kurang zat gizi.

Faktor lain yang memengaruhi adalah buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan, serta faktor internal yaitu kekurangan gizi kronis yang bisa menyebabkan abortus, anemia pada bayi baru lahir, bayi dengan berat badan lahir rendah, cacat bawaan hingga kematian.

"Kekurangan gizi kronis pada anak akan menimbulkan persoalan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di masa depan," terang Sinteisa.

Ia pun menegaskan bahwa upaya menurunkan angka stunting di Indonesia diperlukan kolaborasi. Artinya, pemerintah dalam hal ini BKKBN tak mungkin bekerja sendiri, harus dibantu oleh pihak lain supaya tujuan bersama yaitu menurunkan angka stunting di Indonesia dapat tercapai.

"Mengatasi kasus stunting itu begitu kompleks, sehingga dibutuhkan sinergi semua pihak," tambah Sinteisa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini