Putus Mata Rantai Thalasemia, Siapa Saja yang Perlu Lakukan Skrining?

Siska Permata Sari, Jurnalis · Rabu 05 Mei 2021 17:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 481 2406159 putus-mata-rantai-thalasemia-siapa-saja-yang-perlu-lakukan-skrining-bPln19cOHy.jpg Mencegah thalasemia (Foto: Mommy Wall)

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah dengan kondisi jumlah hemoglobin yang berada di bawah normal. Thalasemia terjadi akibat gangguan pembentukan rantai globin yang merupakan komponen sel darah merah.

Secara klinis, thalasemia dibagi menjadi tiga. Yaitu, thalasemia mayor, di mana pasien memerlukan transfusi darah yang rutin dan adekuat seumur hidupnya. Kemudian thalasemia intermedia bila pasien membutuhkan transfusi tetapi tidak rutin. Lalu terakhir, bila tanpa gejala dan secara kasat mata tampak normal, disebut sebagai pembawa sifat thalasemia.

 thalasemia

Thalasemia, bukanlah penyakit yang menular. Namun, ini merupakan penyakit keturunan yang telah menjadi mata rantai di Indonesia. Menurut data terbaru yang dipaparkan Kementerian Kesehatan RI, jumlah penyandang thalasemia mayor di Indonesia mencapai 10.515 jiwa.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) dr Cut Putri Arianie, MHKes mengungkapkan, penyandang thalasemia dapat mengalami komplikasi seperti gangguan pertumbuhan, gagal jantung, hingga pembesaran limpa. Belum lagi, penyandang thalasemia harus melakukan upaya-upaya pengobatan. Mulai dari penambahan vitamin, minum obat kelasi besi hingga melakukan transfusi darah secara rutin seumur hidupnya.

“Ini sebenarnya dapat dicegah. Salah satunya adalah mencegah perkawinan sesama pembawa sifat. Skrining paling penting dilakukan,” kata dr Cut Putri Arianie di acara ‘Media Briefing Hari Talasemia Sedunia 2021’ yang digelar virtual, Rabu (5/5/2021).

Dia menjelaskan, ada beberapa kelompok orang yang perlu melakukan skrining untuk memutus mata rantai talasemia di Indonesia. “Pertama kita sarankan pada saudara kandung keluarga penyandang talasemi, yang bisa terlihat apabila di keluarga tersebut ada yang sudah didiagnosa talasemia,” ujarnya.

Kemudian, skrining juga sebaiknya dilakukan pada remaja atau calon pengantin sebelum mereka menikah. Lalu, ibu yang sedang hamil juga dapat memeriksakan janinnya dengan pemeriksaan khusus saat masa kehamilan.

“Hal yang penting adalah lakukan deteksi dini sebelum menikah. Saudara kandung penyandang talasemia wajib diperiksa, dan rencanakan keturunan bila terjadi pernikahan sesama pembawa sifat. Ini adalah kunci melakukan pencegahan tadi,” kata dr Cut.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini