Dialami Suami Joanna Alexandra Sebelum Meninggal, Kenapa Badai Sitokin Berbahaya?

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 06 Mei 2021 20:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 481 2406825 dialami-suami-joanna-alexandra-sebelum-meninggal-kenapa-badai-sitokin-berbahaya-YUV6mdT5Sa.jpg Joanna Alexandra dan suami (Foto : Instagram/@joannaalexandra)

Suami Joanna Alexandra, Raditya Oloan meninggal dunia. Kabar duka diketahui dari rekan Joanna Alexandra, Ni Made Westny.

"Your forever in our heart, and will be remembered your sincere kindness. Bobok yang tenang ya, Dit. Jaga keluarga dari rumah Bapa," tulis Ni Made Westny, Kamis (6/5/2021).

Sebagaimana diketahui, Raditya Oloan kritis usai dinyatakan negatif Covid-19. Menurut keterangan Joanna, Raditya punya penyakit bawaan yang kambuh akibat tertular Covid-19.

Joanna Alexandra

"Kondisinya post-covid dengan komorbid asma, and dia sedang mengalami cytokine storm (badai cytokine) yang menyebabkan hyper-inflamation di seluruh tubuhnya. Ditambah lagi ada infeksi bakteri yang lumayan kuat (tapi tidak sekuat ayah saya tentunya!!!!). Oia dan sementara ini Radit lagi CVVH karena ginjalnya lagi kurang berfungsi dengan baik," tulis Joanna

Raditya Oloan sempat mengalami badai sitokin. Dijelaskan Dokter Spesialis Paru RS Awal Bros Bekasi Timur dr. Annisa Sutera Insani, SpP, badai sitokin adalah kondisi saat sistem imun tubuh melawan virus dan ini biasanya terjadi saat adanya infeksi berat atau sepsis.

Baca Juga : Suami Joanna Alexandra Meninggal Dunia

Baca Juga : Mengenal Badai Sitokin yang Dialami Suami Joanna Alexandra Sebelum Meninggal

Jadi, saat tubuh mengalami sepsis, seperti demam, denyut nadi cepat, sesak napas, biasanya itu menjadi tanda dari terjadinya badai sitokin. Namun, menjadi catatan di sini bahwa badai sitokin sendiri tidak bisa dilihat dari luar.

"Badai sitokin itu terjadi saat tubuh mengalami kondisi sepsis," ungkapnya pada Okezone melalui pesan singkat, beberapa waktu lalu.

Lantas kenapa badai sitokin berbahaya bagi manusia? Dijelaskan dokter Annisa, semua pasien yang terinfeksi virus apapun akan mengalami badai sitokin. Terlebih ketika sistem imun tubuh mereka tidak cukup kuat untuk melawan virus jahat tersebut.

"Nah, saat imun tidak kuat melawan virus, itulah yang dinamakan badai sitokin," sambungnya.

Menurutnya, badai sitokin ini bisa terjadi di mana saja dan tidak hanya karena penyakit COVID-19. "Intinya, kalau tubuh Anda sedang diserang virus, kemudian sistem imun yang ada kekurangan 'tentara' sitokin, maka itulah yang dinamakan badai sitokin," tegasnya.

Lebih lanjut, dokter Annisa menjelaskan kondisi pasien ketika mengalami badai sitokin. Salah satunya denyut jantung pasien akan meningkat.

"Saat badai sitokin muncul, tubuh juga akan mengalami demam, sesak napas, denyut jantung cepat atau yang disebutkan di awal dengan kondisi sepsis. Nah, kalau kondisi semakin buruk, tensi bisa turun karena virusnya sulit untuk dikalahkan," jelasnya.

Sementara itu, dr Annisa coba menerangkan secara detil ini kondisi tubuh ketika badai sitokin terjadi di paru-paru.

"Jika badai sitokin menyebabkan peradangan pada paru atau reseptor cox teraktivasi, tubuh akan secara otomatis mengaktifkan prostaglandin untuk merangsang menjadi demam dan nyeri," jelas dia.

"Kalau sudah begini, dokter akan memberikan cox inhibitor seperti obat non-steroid anti inflamasi drug (NSAID) contohnya ibuprofen atau aspirin dengan tujuan mengurangi demam atau nyeri yang muncul," tambahnya.

Pada kasus COVID-19, tubuh manusia memaksa sistem imun sitokin itu untuk terjadinya badai sitokin, karena virus yang datang terbilang baru dan sulit untuk dikenali sistem imun tubuh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini