Gigih Berjuang, Warga Malang Lulus Seleksi Imam Masjid UEA

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 07 Mei 2021 22:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 07 612 2407427 kisah-warga-malang-lulus-seleksi-imam-masjid-uea-sempat-tak-percaya-bakal-berangkat-fz94SyAHFi.jpg Muhammad Shohibul Huda lulus seleksi imam masjid di UEA. (Foto: Dok pribadi via Okezone)

MUHAMMAD Shohibul Huda masih tidak menyangka menjadi satu dari 27 peserta yang lulus seleksi imam masjid di Uni Emirat Arab (UEA) yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dan Pemerintah UEA. Warga Perumahan Istana Bedali Agung, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ini awalnya hanya coba-coba didaftarkan sang istri mengikuti seleksi imam asal Indonesia yang bakal dikirim ke UEA.

Menurut dia, awalnya dirinya mengetahui adanya seleksi imam masjid di UEA pada tahun 2020 lalu. Saat itu ia membaca informasi dari Dirjen Binmas Kemenag RI bahwa Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UEA di Abu Dhabi mencari imam yang bakal di tempatkan di masjid-masjid di UEA. Ini atas permintaan khusus Pangeran UEA Syeikh Mohammaed bin Zayed.

Baca juga: 27 Imam Masjid Asal Indonesia Segera Berangkat ke Uni Emirat Arab, Berikut Daftar Namanya 

"Kalau enggak salah itu informasinya tahun lalu, sekitar bulan September. Sebetulnya saya sendiri juga melihat pengumumannya kayak enggak yakin juga, apakah memenuhi kriteria atau bukan. Kriterianya banyak, yang masuk kriteria saya kira di atas umur 25 tahun, ya itu yang akhirnya memberanikan diri mendaftar," ucap Shohibul Huda.

Atas dorongan sang istri pula, ia pun akhirnya coba mendaftarkan diri. Mendaftarnya pun di hari terakhir batas pendaftaran yang ditentukan oleh pihak Kemenag RI dan panitia dari Pemerintah UEA. Pria berusia 37 tahun ini masih ingat betul saat itu pendaftaran terakhir pada 20 Oktober 2020, sedangkan ia sendiri juga mengirim syarat dokumen pendaftaran pada hari sama di sorenya.

"Sore hari itu baru daftar. Kalau enggak salah ditutupnya malam jam 9 (21.00) atau jam 10-an (22.00)," timpalnya.

Muhammad Shohibul Huda lulus seleksi imam masjid di UEA. (Foto: Dok pribadi via Okezone)

Bulan berganti, pada November 2020, pria yang akrab disapa Shohib itu terkejut saat menerima pemberitahuan dari pihak Kemenag RI bahwa dirinya menjadi 1 dari ratusan peserta seleksi calon imam yang lulus verifikasi dokumen awal. Saat itu ia pun menerima pemberitahuan harus berangkat ke Jakarta untuk menjalani seleksi tahap pertama calon imam.

"Tanggal 2 sampai 4 Desember diminta ke Jakarta untuk melakukan seleksi tahap pertama. Jadi pertama itu dites sama orang Kemenag-nya di Jakarta," ungkap dia.

Baca juga: Seleksi Standar Tinggi, 27 Imam Asal Indonesia Segera Bertugas di Uni Emirat Arab 

Selama tes tahap pertama di Jakarta ini, Shohibul Huda harus bersaing dengan ratusan peserta seleksi lain menjalani tes meliputi tahsin atau suara yang merdu, fikih sholat, kebahasaan atau fasih dalam berbahasa Arab, hingga memiliki keilmuan Islam moderat. Di tahap pertama pula setiap peserta harus bisa berkhotbah dan berpidato secara bagus menggunakan bahasa Arab.

Selesai menjalani seleksi tahap pertama, Shohibul terkejut namanya masuk dan berhak mengikuti seleksi tahap kedua. Ia bersama 100 peserta masuk tahap seleksi kedua yang digelar pada Maret 2021 lalu.

"Di tahap kedua ini pengujinya langsung Syeikh-nya dari UEA ada 5 orang. Pelaksanaannya Maret kemarin, pelaksanaannya sama 3 hari juga. Saat itu yang datang 90 orang dari 100 orang peserta," bebernya.

Baca juga: Imam Masjid dan Pendakwa Asal Indonesia Ini Sukses Kelolah 5.000 Ekor Sapi 

Di sinilah kunci dari seleksi verifikasi dokumen dan tahap pertama yang dijalani pria yang sehari-hari juga berprofesi sebagai pengajar hafalan Alquran di Ma'had UIN Malang ini, bagaimana tidak setiap peserta yang masuk seleksi tahap dua harus menjalani seleksi satu per satu di hadapan para Syeikh dari UEA yang datang secara khusus ke Indonesia.

"Peserta yang ada itu dipanggil dites oleh para Syeikh itu. Materi tesnya sama sebenarnya, mengenai kebahasaan, tahsin (suara bacaan Alquran), hafalan Alquran, hingga pemahaman Islam. Kira-kiranya itu. Tapi hasilnya enggak langsung keluar, baru beberapa hari kemudian keluar," terang Shohibul Huda.

Muhammad Shohibul Huda lulus seleksi imam masjid di UEA. (Foto: Dok pribadi via Okezone)

Usai menjalani seleksi tahap kedua, nama Muhammad Shohibul Huda masuk 27 peserta seleksi imam yang bakal diberangkatkan ke UEA. Awalnya ia mengaku tidak percaya ada namanya yang lulus, namun saat dikonfirmasi lagi ke pihak Kemenag RI benar ada namanya yang menjadi satu dari 27 peserta lulus.

"Enggak nyangka bisa lulus, karena semua tesnya berat. Enggak yang ada muda, yang paling besar porsinya di hafalan 30 juz, tilawahnya, tahfidz, lagu membacanya, sama kemampuan bahasa Arab, porsinya itu," jelasnya.

Baca juga: Asida, Takjil Khas Maluku yang Jadi Primadona saat Ramadhan 

Shohibul Huda mengaku saat menjalani tes pemahaman agama ada keterbatasan bahasa Arab yang dimilikinya, sehingga beberapa kali terpaksa menjawab pertanyaan dengan Syeikh-nya dengan menggunakan bahasa Inggris.

"Waktu dites Syeikh di bahasa Arab ada yang lupa, mungkin karena nervous atau grogi, akhirnya saya pakai bahasa Inggris, tapi alhamdulillah yang sana juga paham. Waktu itu dites fikih moderat, semuanya sulit. Tapi saya kira ini semua bukan dari kemampuan saya, tapi karena ridho Allah saya bisa lulus," paparnya.

Kini setelah dinyatakan lulus dan akan diberangkatkan ke UEA, dirinya masih menunggu kepastian waktu keberangkatannya yang bakal dikonfirmasi lagi oleh Kemenag RI dan pihak Pemerintah UEA. Segala dokumen mengenai pemberangkatan mulai paspor, ijazah terakhir, pas foto, hingga form yang dikirimkan Pemerintah UEA sudah dikirimkannya ke pihak Kemenag RI.

"Itu disetorkan maksimal 30 April kemarin. Semua sudah selesai. Selanjutnya menunggu info dari Kemenag atau dari UEA-nya kapan. Waktunya yang disampaikan dari Kemenag perkiraan Juni atau Juli, lebih jelasnya masih menunggu," terangnya.

Baca juga: Ini Dia Penyebab Berat Badan Naik saat Bulan Puasa 

Dirinya saat ini fokus belajar memperlancar komunikasi dan penguasaan bahasa Arab yang terkadang lupa, mengingat terakhir kali menggunakan komunikasi bahasa Arab saat dirinya berhaji ke Arab Saudi tahun 2018. Alhasil, segala catatan mengenai perjalanannya ke Arab Saudi kembali dibukanya.

"(Pada) 2018 pernah berangkat haji jadi ikut materi jadi tahu lingkungan di Arab, sambil membuka lagi catatan, obat-obatan yang dibawa dan pakaiannya," imbuh dia.

Keluarga Tidak Menyangka Lulus

Keberangkatan Muhammad Shohibul Huda ke UEA tampaknya disambut rasa campur aduk oleh pihak keluarga. Sang istri tidak menyangka suaminya bakal lulus seleksi calon imam oleh Pemerintah UEA.

"Respons keluarga ya campur aduk. Ada senangnya, ada bingungnya, antara senang bisa lolos dan diberi kesempatan. Kalau bingungnya, karena meninggalkan kampung. Di kampung seperti keluarga sendiri," ujarnya.

Baca juga: Wajib Tahu, Protokol Kesehatan saat Sholat Tarawih di Masjid 

Apalagi sedari awal mendaftar hingga dinyatakan lulus belum ada keluarga besarnya dan lingkungannya yang tahu mengenai kabar tersebut. Ia mengaku sengaja tidak memberi tahu pihak keluarga dan lingkungan terlebih dahulu.

"Ketika awal tes enggak pernah cerita ke keluarga. Ketika ke Jakarta ditanya, saya bilang ceritanya mau ngaji, mau nyampaikan enggak tega juga. Kalau di UIN hanya kawan dekat yang tahu. Kalau institusi belum tahu. Kalau nunggu kepastian berangkat. Kedua masih nunggu informasi jadwalnya kapan keberangkatannya. Nanti kalau sudah ada informasi pasti kapan keberangkatannya rencana mau sowan (pamit) ke institusi dan menemui Pak Rektor (UIN Malang)," tuturnya.

Selain berat meninggalkan keluarga, Shohibul Huda juga berat meninggalkan santri-santri di Rumah Tahfidz yang dikelolanya di sekitar lingkungan rumah.

"Ada santri juga, tetangga-tetangga yang baik, kesannya meninggalkan sangat berat. Kita juga masih ngasuh orangtua di kampung sekarang saja jarang karena kesibukan, apalagi kalau di luar negeri menjenguk orangtuanya pasti lebih jarang," jelasnya.

Baca juga: Ini Pentingnya Tidur Cukup Supaya Kuat Jalankan Puasa Ramadhan 

Terakhir bila memang diizinkan membawa keluarga, pihaknya bakal memboyong istri ke UEA untuk menemani perjalanannya berdakwah agama Islam.

"Salah satu pertimbangan ikut seleksi kemarin karena semua yang jadi imam boleh mengajak keluarga, akhirnya saya mau daftar," tukasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini