Kisah Pemilik Bakso Lapangan Tembak, saat Pikul Dagangan Pernah Dikejar Trantib

Doddy Handoko , Jurnalis · Sabtu 08 Mei 2021 08:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 08 298 2407550 kisah-pemilik-bakso-lapangan-tembak-saat-pikul-dagangan-pernah-dikejar-trantib-EwqG4qrQLm.jpg Bakso Lapangan Tembak. (Foto: Doddy Handoko/Okezone)

BANYAK orang tidak mengira Bakso Lapangan Tembak yang kini memiliki ratusan outlet, tepatnya 109 outlet, tersebar di seluruh kota-kota besar di 33 provinsi Indonesia ternyata bermula dari bakso pikulan.

Ada kiat khusus merentas kesuksesan melalui perjalanan panjang dan berliku sekira 30 tahun itu yaitu ulet dan keyakinan untuk berhasil.

Baca juga: Lezatnya Sop Kembang Tahu Bakso Ikan, Cocok untuk Menu Sahur 

Filosofi itu yang tertanam kuat di benak Kusuma Adi Agung Nugroho, owner Bakso Lapangan Tembak. Ia generasi kedua pemilik Bakso Lapangan Tembak.

Agung menceritakan, tahun 1970-an, ayahnya Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono dengan istrinya mengadu peruntungan di Jakarta, meninggalkan tanah kelahirannya di Wonogiri, Jawa Tengah.

Bakso Lapangan Tembak. (Foto: Doddy Handoko/Okezone)

Sebelumnya ia telah berjualan bakso ke Kota Solo, ternyata berjalan di tempat, hanya cukup kebutuhan minimun sehari-hari.

Di Jakarta, hanya memiliki uang Rp150 rupiah untuk modal jualan, tinggal di rumah petak daerah Kemandoran. Ia keliling mencari nafkah menjajakan bakso dengan pikulan. Sempat pula dikerja-kejar petugas trantib (Seksi Ketenteraman dan Ketertiban). Bahkan pernah pulang dengan tangan hampa karena bakso pikulannya disita petugas trantib.

Baca juga: Nikmatnya Bakso Tahu Kuah, Sajian Hangat saat Musim Hujan 

Ia lalu berjualan di sebelah lapangan tembak berupa warung semi-permanen. Kini areanya telah dibangun Hotel Mulia.

Pelanggan mulai berdatangan, bakso pikulan akhirnya berubah menjadi bakso dorongan dan peruntungan selanjutnya bisa mendirikan warung semi-permanen di lapangan tembak tersebut.

Ketika penjual semi -permanen gelisah digusur, tepatnya tahun 1990 harus tergusur untuk dibangun hotel berbintang, Ki Ageng justru telah mempersiapkan diri. Dia telah menyewa tempat, tepatnya di seberang lapangan tembak.

Outlet kedua di Puncak Cimacan Bogor yang dulu jalur utama menuju Bandung dan daerah wisata, bersinergi dengan pemilik lahan yang masih famili dengan Ki Ageng.

Baca juga: Musim Hujan Paling Pas Makan Bakso Ayam Kuah Gurih, Yuk Simak Resepnya 

"Outlet di Senayan dan di Puncak itulah awalnya. Kemudian berkembang puluhan outlet dan sekitar 80 persen outlet bakso lapangan tembak berlokasi di mal," jelas Agung, putra sulung Ki Ageng yang bersama dua saudaranya mengelola Bakso Lapangan Tembak.

Pemilihan lokasi di mal karena berbagai pertimbangan. Citra bakso yang dulunya pinggiran diangkat menjadi makanan papan menengah ke atas.

Bakso Lapangan Tembak. (Foto: Doddy Handoko/Okezone)

Untuk area Jabodetabek, kata alumni Jurusan Entrepreneur Universitas Bina Nusantara ini, rata-rata satu outlet menghabiskan 10 k ilogram bakso per hari, padahal ada sekira 50 outlet Bakso Lapangan Tembak, dengan serapan tenaga kerja minimal 15 orang per outlet.

Ada beberapa outlet di luar Jabodetabek yang omzetnya justru lebih tinggi. Ketika Krisis moneter (krismon) 1998 melanda Indonesia, ternyata berimbas pula pada bisnis Bakso Lapangan Tembak yang tengah menanjak dengan ratusan karyawan yang mencari nafkah di situ.

Baca juga: Resep Bakso Goreng, Kriuknya Bikin Susah Berhenti Ngunyah! 

Banyak outlet di area Jabodetabek dijarah massa dan beberapa bulan pasca-krismon omzet bisnis bakso menurun tajam.

Ia tidak mem-PHK seorang karyawan pun, dan justru meyakinkan karyawan agar tetap bertahan dan jangan pulang kampung.

Agung merasakan dampaknya. Tadinya ada beberapa mobil di Kemandoran, beberapa tanah dan aset lainnya yang dikumpulkan dengan susah payah, harus dijual demi menghidupi karyawan sekaligus mempertahankan bisnis yang telah direntas 20 tahun lebih.

Ia harus rela banyak berjalan kaki ke sekolahnya, bahkan naik angkutan umum mengunjungi outlet-nya untuk magang.

Baca juga: Resep Bakso Urat Kuah Kaldu, Rasanya Nikmat Gurih 

Ia sedari kecil dididik untuk prihatin, menghargai orang dan tidak berpangku tangan. Itu sebabnya, ketika SD dan SMP, ia ke sekolah dintar naik sepeda dan pulangnya jalan kaki.

Begitu pula jarak ke SMA Al Azhar di daerah Kemandoran yang terbilang dekat, Agung harus rela naik sepeda motor bukan mobil.

Bakso Lapangan Tembak. (Foto: Doddy Handoko/Okezone)

Ketika minta handphone saat SMP, ia justru dimarahi dan itulah yang melecut Agung dengan cara menabung uang jajan dan hasil upah kerja magang di outlet-nya untuk mendapatkan handphone.

Tahun 2000 telah ada tanda-tanda bisnis bakso mulai berkembang. Outlet merambah ke kota-kota besar, bahkan ke luar Pulau Jawa.

Baca juga: Hujan-Hujan, Nikmatnya Makan Bakso Kuah Kelapa Khas Lombok 

Tahun 2005, mulailah Bakso Lapangan Tembak menancapkan kuku dengan manajemen modern, terutama dalam penyeragaman kerja sama.

Tahun 2011, Ki Ageng dipanggil Illahi Robbi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini