Jaga Imunitas Tubuh saat Lebaran, Yuk Batasi Konsumsi Garam

Antara, Jurnalis · Rabu 12 Mei 2021 04:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 481 2409284 jaga-imunitas-tubuh-saat-lebaran-yuk-batasi-konsumsi-garam-Njh3HY7Kj7.jpg Ilustrasi garam. (Foto: Vectorpocket/Freepik)

DI momen Lebaran atau Idul Fitri harus tetap memerhatikan menjaga imunitas tubuh. Pasalnya, pandemi covid-19 masih terus terjadi di lingkungan sekitar. Salah satu cara menjaga imunitas tubuh saat Lebaran adalah membatasi konsumsi garam.

Asupan garam jangan terlalu banyak karena bisa mengurangi jumlah energi yang dapat dihasilkan sel sistem kekebalan dan mencegahnya bekerja secara normal. Demikian menurut sebuah penelitian di jurnal Circulation.

Baca juga: Kurangi Garam Bisa Cegah Stroke, Mitos atau Fakta? 

Berdasarkan laporan laman Live Science, kelebihan natrium (garam) berhubungan dengan banyak masalah di tubuh, termasuk tekanan darah tinggi, risiko stroke yang lebih tinggi, gagal jantung, osteoporosis, kanker perut, dan penyakit ginjal.

Ilustrasi Lebaran di rumah aja. (Foto: Freepik)

"Tentu hal pertama yang Anda pikirkan adalah risiko kardiovaskular. Tetapi banyak penelitian telah menunjukkan garam dapat memengaruhi sel kekebalan dengan berbagai cara. Bila garam mengganggu fungsi kekebalan untuk jangka waktu yang lama, hal itu berpotensi mendorong penyakit inflamasi atau autoimun dalam tubuh," jelas Profesor Markus Kleinewietfeld dari Hasselt University di Belgia.

Baca juga: Viral Lebaran Tanpa Nenek, Bikin Kangen Pulang ke Kampung Halaman 

Beberapa tahun lalu, sekelompok peneliti di Jerman menemukan konsentrasi garam yang tinggi dalam darah dapat secara langsung memengaruhi fungsi sekelompok sel sistem kekebalan bernama monosit, yang berfungsi mengidentifikasi dan melahap patogen dan sel yang terinfeksi atau mati di dalam tubuh.

Dalam studi baru, Kleinewietfeld dan rekan-rekannya melakukan serangkaian eksperimen untuk mencari tahu caranya. Mereka menemukan, dalam tiga jam setelah terpapar konsentrasi garam tinggi, sel kekebalan menghasilkan lebih sedikit energi, atau adenosin trifosfat (ATP).

Secara khusus, para peneliti melihat konsentrasi garam yang tinggi menghambat sekelompok enzim yang menyebabkan mitokondria menghasilkan lebih sedikit ATP. Dengan lebih sedikit ATP (lebih sedikit energi), monosit matang menjadi fagosit yang tampak abnormal.

Menurut peneliti, fagosit yang tidak biasa ini lebih efektif dalam melawan infeksi. Namun, hal itu belum tentu baik, karena peningkatan respons kekebalan dapat menyebabkan lebih banyak peradangan dalam tubuh, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Para peneliti kemudian melakukan beberapa percobaan pada manusia, yakni melibatkan para partisipan pria sehat yang mengonsumsi tablet suplemen garam setiap hari sebanyak 6.000 miligram (hampir tiga kali lipat jumlah yang disarankan) selama dua minggu.

Baca juga: Idul Fitri Jatuh 13 Mei 2021, Menag: Dari 88 Titik Pengamatan Tak Ada yang Melihat Hilal 

Dalam eksperimen lain, sekelompok peserta makan piza utuh dari restoran Italia. Hasilnya, setelah makan piza, yang mengandung 10.000 mg garam, mitokondria partisipan menghasilkan lebih sedikit energi. Tetapi efek ini tidak bertahan lama. Sekira 8 jam setelah partisipan makan piza, tes darah menunjukkan mitokondria mereka berfungsi normal kembali.

Tapi, tidak jelas apakah mitokondria terpengaruh dalam jangka panjang apabila seseorang secara konsisten makan makanan tinggi garam. Para peneliti berharap untuk memahami apakah garam dapat berdampak pada sel lain, karena mitokondria ada di hampir setiap sel di tubuh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini