Penelitian Terbaru: Ibu Hamil Bisa Dapat Vaksin Covid-19

Antara, Jurnalis · Jum'at 14 Mei 2021 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 612 2410212 penelitian-terbaru-ibu-hamil-bisa-dapat-vaksin-covid-19-ZU32SXsSZB.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SALAH satu yang tidak disarankan menerima vaksin Covid-19 adalah para ibu hamil. Tapi, sebuah penelitian terbaru mencatat bahwa vaksin Covid-19 mungkin aman diberikan selama kehamilan.

Dala studi jurnal Obstetrics & Gynecology menyebut ada literatur baru yang berkembang bahwa vaksin Covid-19 aman untuk kehamilan. Jeffery Goldstein, asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern Feinberg di AS mengataka hal ini diketahui dari plasenta yang berperan seperti kotak hitam di pesawat terbang.

"Jika ada yang tidak beres dengan kehamilan, kami biasanya melihat perubahan pada plasenta yang dapat membantu kami mengetahui apa yang terjadi," ujarnya seperti dikutip Indian Express.

"Dari apa yang kami ketahui, vaksin Covid tidak merusak plasenta," imbuh Goldstein.

Para peneliti mencatat bahwa ada banyak keraguan tentang vaksin, terutama di kalangan orang hamil.

"Tim kami berharap data ini, meskipun masih awal, dapat mengurangi kekhawatiran tentang risiko vaksin untuk kehamilan," ujar rekan penulis studi tersebut Emily Miller, asisten profesor di Universitas Northwestern Feinberg, Amerika Serikat.

Penulis penelitian memeriksa plasenta dari 84 pasien yang divaksinasi dan 116 pasien yang tidak divaksinasi di sebuah rumah sakit di Chicago, Amerika Serikat. Sebagian besar pasien menerima vaksin, baik Moderna atau Pfizer selama trimester ketiga.

Pada bulan April, para ilmuwan menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan wanita hamil membuat antibodi Covid-19 setelah vaksinasi dan berhasil mentransfernya ke janin mereka. "Sampai bayi bisa divaksinasi, satu-satunya cara bagi mereka untuk mendapatkan antibodi Covid adalah dari ibunya," ujar Goldstein.

Plasenta adalah organ pertama yang terbentuk selama kehamilan. Plasenta memiliki peran yang sangat besar pada organ janin saat mereka masih terbentuk, seperti menyediakan oksigen saat paru-paru berkembang dan nutrisi saat usus sedang terbentuk.

Menurut para peneliti, plasenta mengatur hormon dan sistem kekebalan tubuh, dan memberitahu tubuh ibu untuk menyambut dan mengasuh janin daripada menolaknya sebagai penyusup asing.

"Internet telah memperkuat kekhawatiran bahwa vaksin tersebut dapat memicu respons imunologis yang menyebabkan ibu menolak janinnya. Tapi temuan ini membuat kami percaya bahwa itu tidak terjadi," kata Goldstein.

Para ilmuwan juga mencari aliran darah yang tidak normal antara ibu dan janin serta masalah dengan aliran darah janin, keduanya telah dilaporkan pada pasien hamil yang dinyatakan positif Covid-19. "Tingkat cedera ini sama pada pasien yang divaksinasi dengan pasien kontrol", kata Goldstein.

Para ilmuwan juga memeriksa plasenta untuk histiocytic intervillositis kronis, komplikasi yang dapat terjadi jika plasenta terinfeksi, dalam hal ini oleh SARS-CoV-2.

Meskipun penelitian tidak menemukan kasus apa pun pada pasien yang divaksinasi, ini adalah kondisi yang sangat langka yang memerlukan ukuran sampel yang lebih besar yaitu 1.000 pasien untuk membedakan antara pasien yang divaksinasi dan yang tidak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini