Daripada untuk Anak-Anak, WHO Minta Negara Kaya Sumbangkan Vaksinnya

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 15 Mei 2021 18:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 15 612 2410535 daripada-untuk-anak-anak-who-minta-negara-kaya-sumbangkan-vaksinnya-miFpa9NNHd.jpg Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

KETERSEDIAAN vaksin Covid-19 memang menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi banyak negara. Banyak negara tidak mampu membeli Vaksin Covid-19 lantaran harganya yang mahal.

Oleh karena itu, Badan Kesehatan Dunia atau WHO mendesak negara-negara kaya dan maju untuk berbagai vaksin pada ingin agar vaksinasi kelompok usia anak-anak sebaiknya ditunda, dan vaksin tersebut dialihkan pada negara yang membutuhkan.

Lewat pernyataan sang direktur jenderal, Tedros Adhanom Ghebreyesus, WHO menilai, daripada memvaksinasi anak-anak, seharusnya negara-negara kaya tersebut mendonasikan pasokan vaksin Covid-19 yang dimiliki kepada negara-negara miskin dan berkembang yang lebih darurat membutuhkan, melalui program fasilitas vaksin gratis, COVAX.

“Saya paham kenapa beberapa negara ingin memvaksinasi rakyatnya, kelompok usia anak-anak dan remaja. Tapi untuk sekarang, saya mendorong mereka (negara-negara kaya) untuk mempertimbangkan kembali rencana tersebut dan sebagai gantinya, menyumbangkan stok vaksin Covid-19 yang dimiliki ke program COVAX,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus pada pertemuan virtual di Jenewa.

WHO berharap lebih banyak negara akan mengikuti jejak Prancis dan Swedia dalam menyumbangkan vaksin Covid-19 kepada COVAX untuk membantu mengatasi jurang sosial vaksinasi, usai menyuntikkan populasi prioritas rakyat negaranya masing-masing. Kanada dan Amerika Serikat sendiri adalah beberapa negara yang telah mengesahkan vaksin untuk digunakan pada remaja dalam beberapa pekan terakhir. 

Program pendistribusian vaksin Covid-19 gratis, COVAX, sejauh ini diketahui sudah mengirimkan kurang lebih sebanyak 60 juta dosis vaksin ke berbagai negara miskin dan berkembang yang membutuhkan. 

Kini, COVAX sendiri tengah berupaya keras untuk tetap bisa memenuhi target pasokan, hal ini salah satunya disebabkan adanya pembatasan ekspor India untuk vaksin AstraZeneca karena epidemi Covid-19 di negara benua Asia Selatan tersebut terus meningkat dan mengakibatkan situasi krisis kesehatan yang parah. 

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini