Masyarakat Perlu Belajar Tahan Diri Berwisata di Tengah Pandemi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 17 Mei 2021 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 481 2411136 masyarakat-perlu-belajar-tahan-diri-berwisata-di-tengah-pandemi-yOPP9zHpH5.jpg Wisata di tengah pandemi (Foto: Kemenparekraf)

Beberapa lokasi wisata dikabarkan penuh sesak oleh pengunjung yang mau libur Lebaran. Momen tersebut dijadikan semacam pelipur lara bagi sebagian orang yang bosan di rumah saja akibat pandemi.

Tak hanya H+1 Lebaran, beberapa hari setelah Idul Fitri pun lokasi wisata terus dikabarkan banjir pengunjung. Misalnya saja Ancol dengan jumlah kunjungan lebih dari 30 ribu orang per hari, atau video Pantai Batukaras, Pangandaran, yang terpantau banyak sekali orang berwisata ke sana.

 Wisata Ancol yang sempat membludak

Padahal, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi meminta masyarakat untuk menahan diri agar tidak berlibur karena situasi saat ini masih pandemi Covid-19. Artinya, penyebaran virus masih sangat mungkin terjadi meski tempat wisatanya outdoor.

"Baiknya kita menahan diri. Saat ini risiko lonjakan kasus sangat besar karena adanya pergerakan dan mobilitas dan interaksi yang sangat tinggi. Sekali lagi, pemerintah mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menahan diri demi keselamatan bersama," kata Siti Nadia pada MNC Portal Indonesia melalui pesan singkat, beberapa waktu lalu.

Ahli Epidemiologi Griffith University, Australia, Dicky Budiman, pun menyarankan agar tempat wisata yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan tegas sebaiknya ditutup. Sebab, transmisi virus di Indonesia sudah ada di level terburuk.

"Indonesia sudah pada level penularan di komunitas. Itu level terburuk. Indonesia sudah satu tahun ada di level tersebut menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jadi, kalau sudah ada aktivitas seperti itu (penumpukan massa di satu tempat meski outdoor), ya, kemungkinan besar ada penularan," terang Dicky.

Dengan begitu, "Kalau tidak bisa menjamin pembatasan pengunjung dan memastikan wisatawan menerapkan prokes dengan ketat atau tidak ada registrasi online walaupun lokasi wisatanya outdoor, ya tutup. Sebab, penyebaran Covid-19 bakal tidak terkendali," tambah Dicky.

Sementara itu, Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan, bagaimana sikap paling bijak menyikapi keinginan yang besar untuk liburan pasca lebaran setelah 'muak' di rumah saja.

Menurut Mei, kuncinya ada di kontrol diri dan memahami dengan jelas apa risiko yang akan terjadi ketika memaksakan untuk tetap liburan di situasi pandemi Covid-19.

"Saya seringkali mengatakan, mulai sesuatu dari diri sendiri dan keluarga, serta lingkungan terdekat. Kita enggak bisa kontrol kebijakan atau mengatur orang lain sehingga lebih baik mulai dari diri kita sendiri," terang Mei, Senin (17/5/2021).

Lokasi wisata yang memilih tetap buka tentu sudah sesuai dengan rekomendasi Pemda. Tapi, kita sebagai masyarakat sejatinya harus berpikir bahwa untuk berlibur di waktu sekarang adalah keputusan yang belum tepat.

"Lokasi wisata bukan tempat yang benar untuk ke sana sementara waktu ini sampai Covid-19 mereda. Namun harus dipahami jika pemerintah membuka tempat wisata dengan aturan prokes ketat mungkin supaya kondisi ekonomi tetap berjalan," kata Mei.

"Tapi memang jadi agak membingungkan karena Covid-19 masih belum mereda tapi pemerintah seakan enggak konsisten dengan kebijakannya. Terlepas dari itu, kembali lagi kita masyarakat yang pandai-pandai memilah dan mengendalikan diri kita masing-masing," papar Mei.

Mei menambahkan, sebisa mungkin kita semua menjaga diri sendiri dan keluarga terdekat untuk sekarang ini. "Jika semua melakukannya, saya yakin apapun kebijakan pemerintah pada akhirnya yang merasakan dampaknya kita juga, sehingga tetap berpikir jernih dan pandai memilih mana yang terbaik menurut kita," imbuh Mei.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini