WHO Sebut Jam Kerja Panjang Sebabkan Lebih Banyak Kematian, Ini Tanggapan Dokter

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 17 Mei 2021 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 481 2411190 who-sebut-jam-kerja-panjang-sebabkan-lebih-banyak-kematian-ini-tanggapan-dokter-RPm9zHcYtE.jpg Jam kerja terlalu panjang (Foto: Help desk geek)

Badan Kesehatan Dunia (WHO), merilis pernyataan pada Senin (17/5/2021), bahwa jam kerja panjang menyebabkan 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik pada 2016.

Angka tersebut meningkat 29 persen sejak 2000. Tentunya penelitian ini memberikan bukti terkait korelasi antara jam kerja panjang dengan tingkat kematian seseorang.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Muhamad Fajri Adda’I mengatakan, ia sepakat dengan publikasi yang diberikan WHO tersebut. Menurutnya penelitian tersebut sebenarnya memberikan evidence yang sangat kuat. Sebab, studinya besar, meta analisis berdasarkan puluhan studi, dan angkanya juga besar.

 begadang untuk lenjutkan kerja

“Penelitian ini memang sudah banyak terbukti bahwa, kelelahan, kurang tidur, dan lain-lain meningkatkan risiko kardiovaskular dan kematian. Jadi memang begadang dari segi waktunya, itu memang risikonya tinggi. Itu sudah jelas sih, bukti-bukti sebelumnya memang sudah jelas,” terang dr. Fajri, saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin (17/5/2021).

Menurut dr. Fajri, jam kerja yang lebih panjang memang berisiko lebih besar untuk terserang penyakit. Oleh sebab itu, para tenaga keja apapun, termasuk tenaga medis (Nakes) di masa pandemi Covid-19 harus benar-benar diatur.

“Karena berbahaya memang. Ini tanggapan saya yang pertama. Studi ini memvalidasi apa yang kita tahu selama ini yang semakin memperkuat evidence atau bukti,” tuntasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini